Simfoni langit jingga IV

Saskia dan Suryani manggut-manggut di tempatnya. Rosdiana mencoba mengulum senyum mengikuti senyum Siti Maryam. Sedangkan Yulianti berusaha menyelami makna tausiyah yang terdengar bijak di telinganya itu.

Semua peserta majelis semakin serius mendengar. Tak merasa jemu duduk berlama-lama di lantai masjid tanpa ambal. Mereka memang tak bosan-bosannya mendengar tausiyah dari wanita shalehah yang senantiasa berdakwah dalam SMU Negeri 5 Makassar itu. Siti Maryam adalah salah seorang kader dakwah remaja putri. Ilmu agamanya cukup. Pendidikan sekolahnya juga semakin mantap.

     “Saya sarankan kepada UKhti Yulianti agar tidak usah berhadapan dengan Ardi. Ukhti dalam hal ini tidak bersalah. Ardi wajar mendapatkan perlakuan semacam itu. Dia adalah kakak kelas dan sudah hampir tiga tahun berada di sekolah ini. Keadaan sekolah ini, baik peraturannya maupun keberadaan organisasi di sini sudah dia pahami. Semua siswa-siswi di sini berada di bawah naungan OSIS. Dan OSIS memiliki berbagai organisasi sebagai wadah untuk menampung siswa-siswi yang mau meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuan dan skil yang dimilikinya. Semua organisasi tidak memaksa kita untuk menjadi anggotanya. Keberadaan organisasi tersebut melatih kita agar dapat bermasyarakat dengan baik. Membina kekompakan dan menambah wawasan kita dalam dunia pendidikan.

     “Khusus organisasi di masjid ini yang bergabung dalam Kerukunan Remaja Masjid Nurut Tarbiyah disingkat Kramnut, menampung semua siswa-siswi Islam dari berbagai organisasi umum di sekolah ini. Jadi, bukan berarti bila kita sudah masuk Pramuka, kita tidak usah lagi masuk Remaja Masjid. Atau kita sudah jadi anggota PMR, lalu tidak usah lagi jadi anggota remaja masjid. Begitu pula dengan Karate dan Taekwondo. Seharusnya kita tampil di organisasi mana pun untuk menampilkan ajaran Islam di sana. Jika tidak ada remaja masjid yang bergabung dalam Pramuka, lalu siapa yang akan mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran di sana? Siapa yang akan mengingatkan saudara kita di Pramuka untuk shalat kalau bukan anak remaja masjid?

     “Nah, inilah tujuan utama organisasi. Melalui wadah tersebut, kita membentuk pribadi kita sendiri untuk selalu tampil sebagai orang yang memiliki jiwa pemimpin, minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Kita sangat menyayangkan, ada kakak kelas seperti Ardi yang tidak berjiwa pemimpin. Dia yang seharusnya melindungi kaum perempuan, justru dia yang menyakiti perempuan. Orang seperti itu memang tidak perlu diladeni. Jadi, saya sarankan agar Ukhti Yulianti dan teman-teman tidak usah menemuinya, karena akan semakin membuka peluang baginya.”

     “Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan, Kak?” tanya Yulianti yang semakin merasakan pencerahan dalam jiwanya.

     “Simpel saja wahai Ukhti yang cantik! Berlindunglah kepada Allah. Bentengi diri kita dengan keta’atan kepadaNya. Bergabunglah bersama akhwat di remaja masjid. Dan berhijablah…”

     Siti Maryam melipat kedua tangannya sehingga ujung jarinya menjepit kain jilbab yang dipakainya. Yulianti dapat memahami maksud gerakan itu ketika Siti Maryam menyebut kata berhijab.

     “Memakai jilbab seperti ini artinya berhijab atau menutup aurat. Ukhti yang tercinta… kenapa kita khususnya cewek harus menutup aurat, dalam hal ini berhijab atau berjilbab?” Tanya Siti Maryam memberikan kesempatan kepada peserta majelis.

     “Karena perintah Allah, Kak!” jawab salah seorang yang memakai jilbab.

     “Agar kita tidak diganggu laki-laki, Kak!” jawab seorang lagi yang duduk di samping Suryani.

     “Agar kita bisa dihargai dan dihormati oleh kaum lelaki, Kak!” satu lagi jawaban yang membuat Siti Maryam kembali tersenyum.

     “Alhamdulillah, semua jawaban benar. Ukhti yang mulia… dalam al-Qur’an surah an-Nuur ayat 31, Allah ta’ala   berfirman, “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…

     “Firman Allah juga di surah al-Ahzaab ayat 59, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

     “Nah, Ukhti yang dirahmati Allah… semua yang ada pada diri kita, tubuh kita yang indah ini, wajah kita yang cantik ini, rambut kita yang lembut ini, dan bagian-bagian tubuh kita yang senantiasa kita rawat ini adalah pemberian dari Allah ta’ala. Allah Yang Maha Mengetahui bahwa apa yang ada pada tubuh kita adalah kesenangan bagi kaum laki-laki. Semua ini dapat dimanfaatkan oleh syaitan untuk mencelakakan kita. Apabila kita tidak mau melaksanakan perintah Allah dalam firmanNYa yang saya bacakan tadi, berarti kita lebih memilih agar orang jahat mengganggu kita. Siapa yang mesti kita salahkan? Tidak lain adalah diri kita sendiri. Ketika kita kaum perempuan atau cewek tidak mau menutup aurat. Bahkan ke mana-mana selalu menampakkan aurat, berarti sama halnya kita telah meminta, secara tidak langsung, agar laki-laki yang nakal dan jahat untuk mengganggu kita. Seolah-olah kita sendiri yang berkata, “hai cowok, godain kita dong!” suara khas Siti Maryam yang dihiasi senyum menirukan kebiasaan buruk anak-anak jalanan yang sering menggoda cewek-cewek yang lewat, membuat semua peserta majelis tertawa. Tak terkecuali Yulianti yang terlihat semakin cerah.

     “Seolah-olah kita sendiri yang memancing nafsu birahi para cowok. Kita sendiri yang sering pamer keindahan tubuh kita kepada para lelaki. Bahkan kita tidak pernah merasa berdosa ketika kaum lelaki melihat kita berjalan tanpa menutup aurat. Sampai-sampai Islam mengajarkan kepada kaum lelaki agar berdo’a, “Allahumma inni a’udzu bika min fitnatinnisaa,” Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah wanita… gara-gara kita wanita berkeliaran tanpa menutup aurat.

     “Gara-gara kita para cewek, banyak cowok yang beriman selalu mohon ampun kepada Allah. Karena ketika melihat kita yang cantik, mereka ada ketertarikan yang mereka kuatirkan berasal dari dorongan nafsu birahinya. Boleh dikata, saudara kita kaum laki-laki khususnya ikhwan yang ada di sekolah ini, harus melebur dosa matanya akibat melihat aurat kita setiap hari. Kasihan mereka. Kaum laki-laki berusaha menta’ati Allah dengan menundukkan pandangan ketika berjalan gara-gara kita berada di depannya tanpa menutup aurat lagi. Mereka berjalan sambil tunduk ke bawah. Tak peduli mau menabrak tiang listrik atau tong sampah di pinggir jalan,” tanpa tersendat-sendat Siti Maryam kembali membuat majelis riuh dengan suara tertawa.

     “Oleh karena itu, Allah Subehanah wata’ala yang menciptakan keindahan tubuh kita dan meletakkan kecantikan pada wajah kita. Lalu Allah jua yang memerintahkan kita untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuh kita demi keselamatan kita sendiri. Nah, apakah kita menolak perintah Allah ini? Atas dasar apa kita menolaknya? Toh tidak ada yang melarang kita menutup aurat atau memakai jilbab seperti ini. Jika ada yang melarang kita memakai jilbab, itu karena dia belum mengetahui perintah Allah tentang berjilbab. Maka kita yang harus memberitahukannya. Ingat Ukhti, ciri wanita shalehah adalah menutup aurat secara sempurna, dan itu termasuk mentaati perintah Allah Azza Wajalla.”

     “Dengan jilbab yang melekat pada tubuh kita, insya Allah dapat menjadi perisai atau tameng buat kita. Juga menjadi peringatan bagi kita untuk tidak melakukan kemaksiatan di mana pun kita berada. Kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Dan dengan kebiasaan taat pada Allah akan membawa kita menjadi wanita shalehah. Bahkan bila bersuami, kita akan menjadi isteri yang shalehah di hadapan suami kita.”

     “Jadi, kita yang masih cewek ini bisa dikatakan cewek shalehah di hadapan cowok kita, Kak? Maksud saya, Kak…kalau sudah terlanjur punya Doi, bagaimana selanjutnya, Kak?” tiba-tiba seorang perempuan yang masih memakai mukena shalat tampil memecahkan ketawajjuhan peserta majelis.

     Yulianti kelihatan tidak sabar di tempatnya. Rona wajahnya berubah. Ada kegembiraan ketika mendengar pertanyaan perempuan tadi. Sementara Siti Maryam hanya terlihat tersenyum.

     “Hmm…rupanya Ukhti Ida sudah punya Doi kali ya?! Maaf ya, Ukhti…!” Siti Maryam menggoda perempuan yang bertanya tadi. Namanya Idawati, siswi kelas 2 IPA.

     “Hanya teman dekat saja, Kak. Baru jadian…” spontan Idawati sambil menyumbat mulutnya.

     “Masya Allah…! Hahahaaa….!!!” semua yang hadir tertawa.

Siti Maryam semakin tersenyum lebar hingga nampak deretan gigi depannya yang putih bercahaya. Sekiranya ada seorang ikhwan yang sempat melihat deretan gigi itu, maka ia akan menyaksikan cahaya gigi laksana gigi bidadari yang menyilaukan mata hati. Siti Maryam bagai bidadari sorga yang lahir ke dunia. Biarlah nanti bila ia bersuami, hanya suaminyalah yang dapat membuktikannya bahwa Siti Maryam adalah bidadari dunia.

     “Jika terlanjur sudah punya Doi dan cinta banget, lengket kayak perangko, saya hanya bisa sarankan agar Doi Ukhti bisa beriman kepada Allah dan RasulNya asbab ketaatan Ukhti kepada Allah. Sebisanya sampaikan kepada Doi bahwa menutup aurat adalah perintah Allah. Jangan malah sebaliknya. Sebelum punya Doi, pake jilbab. Eh, ketika ada cowok yang kecantol, buru-buru kita buka jilbab dan merias diri. Ini alamat musibah, Ukhti. Istiqomalah berjilbab di mana saja berada dan dalam keadaan bagaimana pun juga. Ukhti tidak punya Doi atau sudah punya itu tidak masalah, asalkan mampu mentaati perintah Allah sesuai dengan ayat yang saya bacakan tadi. Jaga pandangan. Memelihara kemaluan. Dan jangan menampakkan perhiasan atau aurat kepada Doi. Serta tetap memakai jilbab. Dan saya lebih menyarankan agar bersabarlah dalam mentaati perintah Allah.

     “Masya Allah…terus terang, di masa-masa kita seperti saat ini pasti banyak godaan serta fitnah yang akan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, selalulah berlindung kepada Allah dari godaan cowok. Bila terlanjur punya Doi, mintalah kepada Allah agar Doi kita itu beriman kepada Allah. Menjalin cinta itu banyak menimbulkan fitnah, Ukhti. Maka jangan melanggar rambu-rambu dalam hal cinta mencintai. Berkenalanlah dengan lawan jenis sewajarnya. Saling mencintailah yang sewajarnya. Jodoh ada di Tangan Allah Subehah wata’ala. Cinta yang kita jalin di masa remaja, nanti dikatakan cinta setia apabila kita berhasil meniti jenjang pernikahan bersama Doi kita itu. Sejak jadian dengan Doi dan kita berniat untuk menikah bersamanya, lalu kita patuhi rambu-rambu cinta itu sendiri.

     “Baiklah, Ukhti Yulianti…semoga Allah memberi kita hidayah. Ini semua kehendak Allah agar Ukhti bisa berpikir positif. Masalah Ukhti dengan Ardi jangan dibesar-besarkan, artinya jangan beri dia peluang. Siapa pun laki-laki yang melihat kita sebagai cewek yang ‘aduhai’ dalam keadaan lemah, terbuka, dan bertipe cewek gampangan, maka mereka akan menginjak-injak martabat kita. Tetapi ketahuilah, bahwa kitalah kaum perempuan yang mengundangnya. Yang memancingnya. Membangkitkan nafsu birahinya sehingga mereka mengganggu kita. Maka yakinlah kepada Allah. Dia Allah sudah memberitahukan kepada kita bahwa kita perempuan tidak akan diganggu manakala kita taati perintah Allah Azza wajalla.

     “Tidak perlu menemui Ardi dan tidak ada yang mesti Ukhti jelaskan padanya. Toh dia juga tidak punya hak pada Ukhti. Itu hanyalah bisikan syaitan. Apabila Ukhti mau berlindung kepada Allah, maka Ardi beserta syaitan yang membisikinya akan jauh dari Ukhti.”

     “Maksudnya, Kak…berlindung kepada Allah, caranya bagaimana?” tanya Yulianti memberanikan diri.

     “Berlindung kepada Allah, yaitu mengikuti tuntunanNya. Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk untuk kita pakai dalam kehidupan ini. Juga sebagai pedoman dalam pergaulan kita sehari-hari. Kita adalah ciptan Allah, maka Allah sertai kita dengan kitab pedoman berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita selamat di dunia yang sementara ini dan selamat pula di akhirat yang selama-lamanya. Dunia hanya sementara, akhirat selama-lamanya. Apa yang dapat menyelamatkan kita dari fitnah dunia selain iman dan amal shaleh kita? Oleh karena itu, Ukhti yang hadir di sini, marilah kita senantiasa berlindung kepada Allah dengan cara melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Salah satu perintah Allah yang harus kita laksanakan adalah menutup aurat, “Wa laa yubediina ziinata hunna illaa maa dzhoharo minhaa…,” janganlah menampakkan perhiasan atau aurat kecuali yang biasa terlihat. Perhiasan kita yang harus dilindungi adalah tubuh kita ini. Itulah yang dimaksud dengan aurat. Dalam ayat ini dikatakan, “Kecuali yang biasa terlihat”, maksudnya wajah dan telapak tangan kita. Jadi, semua anggota tubuh kita mulai dari rambut sampai telapak kaki adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

     “Insya Allah, Ukhti Yulianti tidak akan diganggu lagi oleh Ardi dan yang lainnya apabila Ukhti mau menutup aurat. Saya sarankan agar Ukhti mengikuti kegiatan Akhwat dalam remaja masjid. Kita sama-sama belajar ilmu agama di sekolah ini. Kita sama-sama menumbuhkan giroh atau jazbah, semangat dalam beragama. Kita kan mengaku Islam, dan sebagai Muslimah kita wajib belajar ilmu agama. Jika sempat, hari Ahad nanti hadirlah dalam pengajian agar kita mendapatkan ilmu agama. Adapun masalah Ardi, insya Allah saya akan sampaikan kepada pengurus KRAMNUT agar menindak lanjuti perbuatan Ardi tersebut.

     “Ukhti yang dirahmati Allah…sekali lagi, jangan jadikan diri kita termasuk Khadhra’ Ad-Damni, wanita cantik tapi berakhlak jelek. Biarlah kita jelek dari segi wajah atau tubuh, asalkan kita berakhlak mulia. Dan lebih baik lagi, bila Allah memberikan kita kecantikan, karena sesungguhnya tidak ada wanita yang tidak cantik, dan kita memiliki akhlak yang mulia. Pasti kita mau agar Allah masukkan kita ke dalam sorga dan kita menjadi bidadari di sana. Sebaliknya adakah di antara kita yang mau disiksa dalam neraka. Dipanggang dan dibakar dalam neraka? Na’udzu billah, kita berlindung kepada Allah dari siksaan api neraka. Ingat Ukhti, kaum perempuan yang banyak menghuni neraka jahannam. Maka berusahalah agar kita tidak termasuk di dalamnya.” Siti Maryam terlihat bersedih dengan kata-kata terakhirnya. Begitu pula dengan peserta majelis.

 Setelah majelis bubar, semua peserta meninggalkan masjid dan bersama-sama keluar dari lingkungan sekolah untuk kembali ke rumah masing-masing. Lebih kurang setengah jam Siti Maryam memberikan tausiyah sekaligus memberikan solusi atas permasalahan Yulianti.

 Rosdiana dan Yulianti berjalan beriringan dengan Siti Maryam. Sedangkan Saskia dan Suryani telah duluan berjalan bersama Idawati beserta beberapa siswi yang tadi ikut dalam majelis. Mereka sempat melalui depan ruang guru dan di sana mereka berpapasan dengan beberapa guru di sekolah itu. Semua guru sudah memahami kegiatan remaja masjid di sekolah itu.

Yulianti sengaja berjalan beriringan dengan Siti Maryam. Ia tak segan-segan bertanya sambil mengayun langkah menuju ke pintu gerbang sekolah. Siti Maryam yang sudah banyak pengalaman dalam mengatasi problem cewek-cewek di SMU Negeri 5, memberikan jawaban yang mudah dipahami oleh Yulianti sesuai dengan ciri khas orang Makassar dalam berbicara. Saat itu juga, Yulianti telah akrab dengan Siti Maryam layaknya mereka telah lama berkenalan.

     “Ukhti saya tunggu nanti hari Ahad ikut kajian di masjid sekolah ini. Kita ramai lho setiap hari Ahad. Biasanya ada ustadz dari UNHAS atau UMI mengisi kajian dan kita bebas bertanya tentang apa saja.” Siti Maryam memperlambat langkahnya agar dapat bercakap-cakap lebih lama lagi dengan Yulianti dan Rosdiana.

Ujian Cinta Tak terasa olehnya perjalanan cintanya sudah mengantarkan dirinya berada di ambang EBTANAS atau Ujian Akhir Nasional (UAN). Sejak semester tiga di kelas dua tahun lalu, Imran tak bosan-bosannya mengantar jemput ke sekolah. Hubungan cinta mereka sudah tersebar luas dan menarik perhatian guru-gurunya. Terkadang juga Yulianti mendapat perhatian dari gurunya melalui peringatan dan nasehat lembut agar Yulianti mengutamakan sekolahnya.

     “Saya sarankan kepada kamu agar mengutamakan sekolahmu. Masalah pacaran harus dipikirkan matang-matang dulu. Ada masanya kamu akan tetap mencintai seorang laki-laki. Atau ada lelaki yang langsung melamarmu. Tapi itu kalau kamu telah cukup dewasa dan sudah waktunya berkeluarga. Saat ini, kamu belum bisa memahami manfaat berpacaran. Yang terbaik bagi kamu adalah belajar yang tekun, karena tidak lama lagi kamu akan ujian akhir nasional,” nasehat gurunya itu masih tersimpan di kepala Yulianti.Yulianti ingin meyakinkan gurunya dan siapa saja bahwa selama ia mengenal Imran dan menjalin hubungan dekat dengannya, ia tetap rajin belajar seperti biasa.

Lihatlah prestasinya yang tidak pernah menurun pun tidak terlalu meningkat. Bahkan awal-awal semester di kelas tiga prestasinya sempat menunjukkan peningkatan. Ia sempat berada di urutan ke empat murid terbaik nilai semesternya. Hanya saja sikap bapaknya tetap menganggap hal itu biasa-biasa saja. “Bapakku memang tidak suka menghargai prestasiku sebagaimana ia juga tidak suka melihatku pacaran dengan Imran.” Yulianti hanya memendam kekecewaan itu.

 Terkadang pula ia berpikir, “Mengapa cuma aku yang diprotes Bapak. Apakah Bapak akan melarang juga Ayu pacaran. Ataukah Bapak memang membenciku sehingga membenci juga laki-laki yang mencintaiku. Sekiranya Bapak tahu bahwa aku bahagia dengan cinta yang diberikan oleh Imran, sudah pasti ia akan berhenti membenciku. Sayangnya, Bapak tidak pernah mengetahui betapa diriku membutuhkan cinta. Aku tidak pernah merasa dicintai oleh Bapak. Kalau Bapak mau berlaku adil tentu saja perasaanku padanya tidak seperti ini. Akan tetapi mengapa justru sebaliknya. Aku merasa kehadirannya di rumah tidak lebih hanya sebagai tamu Mama saja. Datang tak disangka-sangka. Pergi tak terduga-duga. Ahh…keluarga macam apa ini! Aku dan Mama merasakan cinta yang hambar.”

Yulianti belum beralih dari tatapannya. Sementara Imran yang berdiri beberapa langkah di sampingnya sambil membidikkan kamera ponselnya tidak juga mau mengusiknya. Dibiarkannya Yulianti menyusun kata-kata cinta di benaknya lalu diperdengarkannya di atas tanggul itu.

Yulianti kembali mengingat peringatan bapaknya beberapa hari yang lalu. “Ujian semakin dekat. Kamu hanya sibuk pacaran kesana-kemari. Anak gelandangan itukah yang kasi lulus kamu nanti? Semua orang cerita tentang kamu. Gurumu juga bilang sama saya kalau kamu baku bonceng motor kesana-kemari. Kalau kamu sudah malas sekolah, bilang saja. Tidak setengah mati kita cari uang untuk bayar sekolahmu.”

Sorotan mata Yulianti mulai kabur di atas ombak lautan. Senja pun semakin temaram. Burung-burung pantai yang melintas di atas lautan tidak lagi tersorot oleh cahaya matanya. Ingatannya terus mengarah pada bapaknya. “Andai saja Bapakku tahu bahwa aku tidak lagi mengharap uang sekolah darinya. Mamalah yang memberikan uang sekolah selama ini.” Yulianti kembali bernafas berat.

     “Apa kamu bilang, nilaimu tetap bagus?! Jadi kalau nilaimu tetap bagus, kamu mau bebas pacaran, begitu?! Saya tidak mau tahu nilaimu. Saya tidak suka mendengar cerita orang bahwa kamu sudah seperti anak gelandangan. Kesana-kemari dibonceng anak gelandangan. Adakah anak gelandangan yang ikut ujian? Kamu betul-betul anak  keras kepala. Coba perhatikan teman-temanmu. Adakah mereka berteman dengan gelandangan? Apa kamu mau masuk penjara juga bersama anak pallukka’ itu?” Yulianti hanya mampu menangis saat dimarahi bapaknya. Mamanya hanya diam dalam kamar.

     “Terserah kamu! Jangan menyesal kalau kamu tidak lulus ujian. Seandainya saya tahu memang dari awal kalau kamu hanya pacaran, sekali tidak usah kamu disekolahkan. Pacaran saja kerjamu. Belum apa-apa sudah pintar pacaran. Mau sekolah atau tidak, terserah! Saya tidak mau lagi urus sekolahmu.” Bapak Yulianti sangat marah lalu keluar rumah sambil mengumpat entah apa yang diucapkannya. Tidak lama kemudian terdengar suara Avanza silver bergerak pergi meninggalkan Mallengkeri. Tinggallah Yulianti duduk di lantai. Tertunduk dengan hati yang penuh sesak menimbulkan air mata yang mengalir di pipinya.

     “Yuli…!” tiba-tiba Imran melihat keanehan di wajah Yulianti.

     Yulianti terdiam menikmati tangisan hatinya, tapi airmatanya yang memberitahukannya kepada Imran bahwa ia menangis.

     “Kamu menangis, Yuli…?” Imran maju selangkah.

     Yulianti belum menyadarinya.

     “Yuli…ada apa?” Imran merunduk sambil melambaikan tangan di depan wajah Yulianti. Ia menyadari kalau Yulianti sedang melamun. Lamunannya pasti menyedihkan.

     “Ohh…i…iya, tidak pa-pa ji.” Yulianti salah tingkah.

     “Tidak pa-pa tapi kamu menangis.”

     “Ahh, aku tidak menangis.” Yulianti menyentuh kelopak matanya yang basah.

Imran duduk di samping Yulianti. Sedikit agak rapat. Mereka hanya dipisahkan oleh dua botol air mineral dan beberapa bungkus roti bakar yang masih aman dalam keresek.                     

     “Kapan kamu ujian, Yuli?” Imran mengalihkan perasaan Yulianti.

     “Tidak lama lagi. Kenapa? Kamu mau ikut ujian?” Yulianti memaksakan senyum di balik sisa-sisa tangisan hatinya. Ia berusaha bercanda.

     “Kalu kamu ujian, saya juga ikut ujian.” Imran mengangkat botol air mineral lalu membuka segelnya. Setelah itu ia sodorkan pada Yulianti sambil tersenyum.

     Yulianti menerima air botol itu. “Terima kasih…!” senyumnya mengambang lalu terkatup. [Sekian]

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".