Bagai tak pernah mengalami perubahan. Bahkan puluhan tahun yang silam, panorama Pantai Tanjung Bayang tetap menampilkan keindahan yang menyejukkan pandangan mata. Garis-garis ombak kecil di atas pasir pantai terlukis indah dari buih-buih lautan yang terhempas. Desiran angin lembut yang bertiup di atas hamparan samudera menimbulkan gerakan menggulung. Meliuk-liuk secara beraturan. Begitu pula cakrawala atau lukisan di kaki langit dengan cahayanya yang berubah-ubah dalam hitungan menit. Menghasilkan perubahan warna dari warna panas menyengat menuju ke warna hangat di lensa mata. Hingga menjadi sejuk mencekam dalam rasa dan hayal. Sebuah fenomena yang tak akan sirna di atas pantai. Tak akan raib di pelupuk mata. Hingga pemilik mata itu sendiri tiba waktunya untuk menutup selama-lamanya. Atau pantai beserta lautannya itu digulung dalam peristiwa yang maha dahsyat. Kiamat.

Dunia belum kiamat. Hanya saja perasaan yang terkadang menciptakan kiamat tanpa untaian berbagai huru-hara yang menjadikan rambut segera memutih. Kiamat dengan kengeriannya berupa manusia yang beterbangan laksana anai-anai yang tersembur dari dalam liang tanah. Wanita hamil yang langsung menggugurkan kandungannya. Bayi yang lalai dari puting susu ibunya. Jiwa yang dilanda mabuk padahal sesungguhnya tidak mabuk.

Kiamat juga menampilkan kehancuran alam yang sangat dahsyat. Bintang-bintang berguguran. Gunung-gunung berlarian. Hamparan langit tergulung bagai tilam yang reyot dan kusut. Asap dan kabut tersembur bagai kapas yang beterbangan. Serta berbagai kehancuran lainnya yang menimbulkan ledakan yang maha dahsyat. Kiamat adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Itu rahasia Allah azza wajalla.

Yulianti terpaku di antara desiran ombak yang menghempas pantai. Tatapannya sumbang ke arah langit jingga. Raganya tak mampu menyelam ke dalam samudera. Namun cahaya matanya tenggelam ke dalam lukisan cakrawala di ufuk barat. Sunset telah melebur bersama kenangannya di masa lampau. Menghadirkan sosok bayangan yang tak pernah sirna dalam ruang cinta di hatinya. Menyulam kembali simfoni langit jingga yang terindah dalam hidupnya. Selama langit menampilkan birai jendela berwarna jingga. Selama itu pula cinta tetap hidup. Di hatimu. Di hatiku. Walau sejuta badai turun berlapis-lapis. Allah pasti akan menampakkannya. Seperti itu nyanyian simfoni di hatinya.

Yulianti berada di atas tanggul Jeneberang. Tepatnya di ujung tanggul menghadap ke Pantai Tanjung Bayang. Menikmati pergerakan air laut yang tak bosan-bosannya menghempas pasir. Terhempas. Meninggalkan buih di atas pasir. Buih itu berdesis. Kemudian sirna meninggalkan puing-puing kehampaan tanpa cerita-cerita dari dalam lautan. Terhempas dan berdesis lagi. Meninggalkan pepasiran yang tersenyum diguyur air laut yang masin. Terhempas dan berdesis lagi. Kali ini meninggalkan garis-garis kecokelatan. Seperti itulah panorama pantai.      Sejam yang lalu. Pantai Tanjung Bayang dipadati berbagai macam wajah beserta teriakannya. Berlari-lari mengejar angan-angan kosong di atas pantai ombak. Kini berganti berupa wajah temaram yang dibiaskan dari benturan-benturan riak di atas karang yang karam di tepi pantai. [Bersambung]

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

2 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".