Malam itu, aku tengah membaca buku sambil menikmati segelas kopi di teras apartemen.

Seketika aku terkejut melihat Ryana datang ke apartemenku dengan keadaan lusuh, mata sembab, dan pucat.

Aku bangkit dari duduk dan membawa Ryana ke dalam.

Aku memberinya selimut dan baju bersih untuknya. Memang sedikit kebesaran untuk ukuran dia. Tapi apa boleh buat? Takutnya dia sakit.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi,”

“Hehehe… Tidak..,” Ryana seperti orang yang mabuk.

“Kamu mabuk?”

“Tidak! Dia! Sudah meninggalkanku..,” dia cekikikan.

Aku membuatkan segelas teh hangat untuknya. Itu bisa menetralisir alkohol.

“Minumlah, ini bisa membuatmu tenang,” aku menyodorkan segelas teh hangat untuknya,”

Ryana meneguk teh dengan cepat. Aku terbelalak melihat Ryana seperti itu. Sepertinya ia tengah patah hati.

Aku meninggalkan Ryana untuk merapikan baju kotornya. Setelah aku kembali ke ruang keluarga, Ryana sudah tertidur pulas.

Aku menggendongnya ke kamar tamu dan membaringkannya di tempat tidur. Kemudian, aku kembali ke ruang keluarga.

Aku menemukan ponsel Ryana. Ponselnya menyala karena ada pesan masuk. Ternyata pesan Line dari seseorang bernama Kim Joong Woon. Ditulis menggunakan huruf hanggeul.

“Aku minta maaf. Aku sudah bertindak kasar padamu, aku menyesali semua perbuatanku, aku ingin tetap bersamamu.” tulisnya.

Laki-laki tak tahu diri. Batinku.

Aku membalas pesan itu.

“Jangan pernah hubungi Ryana lagi.”

“Siapa ini?” laki-laki itu membalas pesanku.

“Sahabatnya.”

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ryana kembali ceria. Tapi ada yang tak berubah darinya, ia selalu mudha dirayu.

“Bagaimana menurutmu tentang Lee Jong Wan?”

“Hmmm… Menurutku, dia tak jauh beda dengan Jong Woon,” aku memasang wajah berfikir.

“Kenapa kau bisa berpendapat seperti itu?”

“Kita di Korea, bukan Indonesia. Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar baik atau tidak. Sebaiknya kamu lebih fokus pada tujuan utama kita ke sini. Belajar.”

Ryana cemberut.

Ini demi kebaikanmu Ryana. Batinku.

Seminggu kemudian. Aku berencana mengajak Ryana untuk minum kopi di kedai sekitar Seoul.

“Serius? Ye! Aku ikut!” Ryana begitu antusias saat aku ajak.

Sesampainya di kedai kopi, kami memesan kopi yang berbeda. Aku memesan kopi hitam, dan Ryana memesan kopi susu dengan krim.

Sebenarnya aku berencana untuk menungkapkan perasaanku padanya. Aku sudah menyukainya sejak SMA. Mungkin ini saatnya untuk mengungkapkannya.

Aku menyukainya karena keunikannya. Dia banyak membantuku secara psikologis dengan nasihat aneh dan nyelenehnya. Tapi itulah yang membuatku suka padanya.

Setiap kali aku ingin mengungkapkan perasaan, ia selalu sedang menyukai orang lain.

“Hah…. Semalam aku benar-benar lelah. Tapi dia mengajakku ngobrol walau hanya 15 menit tapi itu membuatku bahagia lagi.” tulisnya saat menyurahkan kebahagiannya lewat pesan pendek.

Kini, aku tak mau kalah lagi.

“Lepasin dulu dong hapenya, kau mau ngomong sebentar sama kamu,”

“Oke,” Ryana meletakan ponselnya di atas meja.

Baru saja aku mengambil nafas untuk berbicara. Datang seorang laki-laki kaya yang dikenal dengan nama Lee Jong Wan itu.

“Ryana?”

“Jong Wan-sunbae?”

Mereka saling tertawa. Meninggalkanku dengan kopi hitam yang akan segera dingin. Kau menyeruput kopi itu, sejenak menghilangkan luka hati.

Aku cuma sahabatmu. Tapi aku hanya bisa menyembunyikan sisi lain dari diriku. Yaitu menyukaimu.

“Arya, aku sama Jong Wan-sunbae mau pergi, boleh kan?” pintanya dengan wajah sumringah.

Aku mengangguk.

Gagal lagi. Batinku.

Di apartemen, aku hanya bersantai sambil membaca buku. Mencoba menutupi luka hati yang semakin hari semakin terus menggerogoti fikiran.

Tok! Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu apartemen dengan keras. Aku buru-buru ke pintu depan dan membuka pintu.

“Ryana?!” aku langsung menggendongnya ke dalam dan membaringkannya di tempat tidur.

Wajahnya pucat. Aku memegangi keningnya dan terasa panas. Aku memeriksa denyut nadinya. Lemah sekali.

Aku mengambil ponsel di saku celanaku. Aku mencoba menghubungi ambulans.

“Tolong! Sahabatku sedang sakit!”

Di rumah sakit. Aku hanya duduk di sampingnya. Memandangi wajah tertidurnya yang entah sampai kapan ia akan terus tertidur. Dokter mengatakan bahwa ia terkena tifus berat.

“Sebaiknya, anda banyak berdoa untuk kesembuhannya.” itulah kalimat terakhir yang dilemparkan dokter padaku.

Aku sampai mencoba berbicara padanya. Walau aku tahu dia tidak bisa mendengarku.

“Ryana, kamu tahu? Aku menyembunyikan sisi lain dalam diriku sejak pertama kali masuk ke SMA. Aku menyukaimu hanya dalam satu potret dirimu di Facebook. Aku menyembunyikannya karena dirimu yang lebih hebat daripada aku yang tak bisa apa-apa,”

Aku terus bergumam sambil menjatuhkan air mata. Mengingat kembali masa-masa indah di SMA.

“Aku bangga menjadi tempat sandaran bagimu, bagi setiap masalahmu. Tapi mengapa? Kau mengatakan dengan senyum manismu bahwa kita hanya sahabat? Terdengar egois memang tapi aku ingin bisa bersamamu. Aku ingin disebut dalam hatimu,”

Aku menggenggam tangan kecilnya yang halus itu.

“Dari dunia yang luas ini. Aku hanya menginginkanmu. Tapi kita hanya sahabat. Dan, aku bahagia menjadi sahabatmu.”

“Permisi,” seorang perawat masuk ke ruang rawat. Aku langsung menyeka air mataku.

Perawat itu mendekati Ryana dan melaksanakan tugasnya. Aku tidak mengerti dunia kedokteran. Tapi setiap ia mengecek, ia langsung mencatatnya.

“Anda pacarnya?” tanya perawat itu.

“Bukan, aku sahabatnya,”

Perawat itu kaget mendengar jawabanku.

“Jika memang mencintainya. Sebaiknya anda mengatakannya. Jika tidak, penyesalan pasti hadir.” perawat itu langsung meninggalkan ruangan.

Aku kembali memandangi Ryana yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Aku mengusap kepalanya. Aku mencintaimu. Batinku.

Dua hari kemudian, aku menemui dokter yang menangani Ryana untuk menanyakan tentang proses penyembuhan Ryana.

“Kemungkinan besar dia bisa sehat,” jelas dokter itu.

Aku menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.

“Tapi, untuk satu hari lagi, ia masih harus dirawat,” sambungnya.

“Tidak masalah, dok,” aku berdiri dan memberi salam pada dokter itu.

Aku pulang ke rumah untuk menyiapkan sesuatu untuk Ryana. Sekaligus untukku agar bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.

Aku menyiapkan lampu kerlap-kerlip dengan foto-foto kami yang kugantung di kabel lampu itu. Aku mencoba mematikan lampu untuk memastikan kesempurnaannya. Setalah itu, aku membentuk kabel lampu itu dengan bentuk hati dna menyiapkan beberapa vas bunga mawar putih, bunga kesukaan Ryana.

Setelah semuanya selesai, aku keluar menuju pintu depan untuk menjenguk Ryana. Tapi saat pintu kubuka, ada Lee Jong Wan yang tengah berdiri bersama lima temannya.

“Dimana Ryana?” tanya Jong Wan.

“Dia tidak ada,” aku mencoba meninggalkan mereka tapi satu teman Jong Wan mencegatku.

Aku berbalik kemudian Jong Wan memukul pipi kananku sampai aku hampir tersungkur ke lantai.

Aku berdiri dan memasang posisi yang entah gaya bela diri apa itu. Aku berlari mendekati mereka dan melompat sambil mengarahkan tendangan pada siapa saja yang ada di depanku.

Aku kembali tersungkur setelah perutku dipukul oleh salah satu teman Jong Wan. Setelah itu, dua orang lainnya memegangiku dari belakang. Jong Wan mendekatiku.

“Ryana itu perempuan yang cantik, kan?” Jong Wan menatapku tajam.

“Kau sudah merasakan bibirnya? Aku ingin mencobanya, sepertinya rasa strawberry,” sambungnya.

Aku termakan emosi. Aku meludahi wajahnya. Jong Wan memukul wajahku berkali-kali. Aku merasakan sakit yang begitu menyakitkan.

“Lepaskan dia,” dua teman Jong Wan itu melepaskan genggamannya. Aku tersungkur ke lantai.

“Masuk ke apartemennya. Hancurkan semuanya!” sambungnya.

Lima orang teman Jong Wan itu masuk ke apartemenku. Entah apa yang mereka lakukan. Aku mencoba bangkit dengan mengangkat tubuhku tapi seketika Jong Wan menginjak tubuhku.

“Apa? Kau ingin mereka berhenti?”

“Dasar sialan!” cemoohku.

Tak lama, mereka meninggalkanku terbaring di depan pintu apartemen. Aku tidak tahu apa motif mereka, tapi bertemu mereka aku merasa seperti tinggal di Jepang. Tapi nyatanya, ini Seoul, Korea Selatan.

Saat itu aku tertidur.

Mataku terbuka, terlihat semuanya sudah terang benderang. Seketika aku mengingat bahwa aku harus membawa Ryana pulang. Aku langsung bangkit tapi sangat terasa. Tubuhku sangat sakit.

Aku berlari menuju rumah sakit. Dengan semua rasa sakit yang kurasakan di tubuhku.

Saat masuk rumah sakit, banyak orang yang memandangiku. Sepertinya mereka kasihan.

Sampai di depan pintu ruang rawat, aku langsung membukanya dan melihat Ryana sudah duduk di kursi roda.

Aku tersenyum.

“Arya?! Apa yang terjadi?!”

Aku tersenyum semakin lebar. “Tidak ada apa-apa, ayo pulang.”

Aku mendorong kursi roda Ryana dengan setiap luka yang ada di sekujur tubuhku.

Saat sampai di depan pintu apartemen, aku melihat Ryana begitu khawatir. Sial, aku lupa membersihkan darah yang ada di lantai. Fikirku setelah melihat beberapa bercak darah di lantai depan pintu apartemen.

Saat masuk ke apartemen, Ryana lebih khawatir lagi. Matanya mulai berlinang melihat isi apartemenku yang acak-acakan. Terlebih saat melihat foto-foto kami yang sobek dan tergeletak di lantai.

Dia menundukkan kepalanya. “Ceritakan padaku apa yang terjadi,” terdengar isak tangisnya.

Aku berjalan mengganti posisi jongkok di hadapannya.

“Seharusnya ini menjadi upacara selamat datang yang hebat untukmu,” aku tersenyum padanya.

“Pasti ini ulah Jong Wan,”

“Ssstt… Sudah, kau sudah pulang, seharusnya kau bahagia,”

Aku pergi ke kamar mandi. Membersihkan semua luka yang ada di tubuhku. Menahan rasa sakit setiap kali air menyentuh kulitku yang terluka.

Setelah aku membersihkan semua lukaku. Aku kembali ke ruang keluarga. Aku lihat Ryana sudah berjalan mondar-mandir merapikan barang-barang yang hancur dan berserakan. Aku berlari menahannya.

“Seharusnya kau istirahat,” aku menggenggam lengan Ryana yang tengah memegang foto kami berdua.

Aku menatapnya, dia menatapku lebih dalam. Aku melepaskan genggamanku.

“Maafkan aku. Tapi kau baru saja pulih,”

Tanpa banyak bicara, ia melanjutkan kegiatannya. Ah, apa boleh buat. Batinku sambil menghela nafas.

Malam harinya, setelah kami membereskan apartemen seperti semula. Aku duduk di sendiri di atap apartemen, sambil menikmati kopi capuccino yang aku beli dari Indonesia.

“Arya?” Ryana memanggilku dari belakang.

Aku berdiri dan berbalik menatapnya. “Di sini dingin, seharusnya kau istirahat,”

Tiba-tiba Ryana memelukku.

“Aku minta maaf, aku tidak tahu tentang perasaanmu,”

“Maksudmu?”

“Aku mendengar semuanya,”

“Mendengar apa?”

“Aku tak bisa bangun, tapi aku bisa mendengar,”

Apa? Jadi selama dia koma, dia bisa mendengarku? Fikirku.

“Seharusnya aku menyadari itu dari awal,” sambungnya.

“Sudahlah,”

“Tidak. Aku ingin bisa mencintaimu. Lebih dari sekedar sahabat,”

“Itu tidak harus dilakukan,”

“Aku ingin terus bersamamu.” pelukan Ryana begitu erat, aku hanya bisa memandang langit.

Tak terasa air mata mengalir menyusuri pipiku.

“Terima kasih,” aku tersenyum.

 

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".