“Aku masih terjebak masa lalu,” kata Zahra.

“Jangan terlalu memikirkan masa lalu, tatap saja ke depan,” jawab Alfa.

Itulah jawaban yang diterima Alfa setelah menanyakan tentang keadaan hati Zahra. Alfa dan Zahra adalah dua sahabat yang sangat dekat, bahkan saat ini mereka berada di fakultas yang sama.

Sebenarnya, Alfa sudah lama menaruh hati pada Zahra, walaupun Alfa terkenal labil, tapi hati Alfa selalu kembali pada Zahra. Bahkan, Alfa berfikir bahwa itulah cinta yang sesungguhnya.

Zahra adalah gadis yang terbilang cantik, tapi sayang saat kelas XI SMA dia sempat disakiti oleh laki-laki yang ia cintai. Hingga saat ini, Zahra masih belum bisa melupakan masa lalunya itu.

“Alfa, lagi ngapain?” tanya Zahra, sambil duduk di sebelah Alfa dan meletakan dua botol minuman di meja taman yang ditempati Alfa.

“Biasa, cerpen, buat tambah-tambah uang kuliah,” jawab Alfa sambil fokus mengetik menggunakan keyboard kecil yang dihubungkan ke Ponsel Pintarnya.

“Minum dulu, nih, pasti haus kamu,” Zahra menyodorkan salah satu botol minuman yang ia bawa.

Alfa pun meminumnya, dan kembali fokus menulis cerpen.

“Kamu abis dari mana?” tanya alfa.
“Abis dari perpus, nyari-nyari buku jurnalistik,”

“Ketemu bukunya?”

“Ketemu, judulnya Jurnalistik Televisi,”

“Oh, aku tahu buku itu, aku pernah baca pas dulu,”

“Nanti bantuin aku belajar ya,”

“Siap,”

Banyak yang mengira Alfa dan Zahra itu berpacaran, sayangnya itu hanya gosip belaka, Alfa yang terkenal begitu dingin terhadap perempuan, hanya bisa ngobrol santai bersama Zahra.

Zahra pun demikian, ia agak sulit beradaptasi dengan laki-laki yang baru ia kenal, sehingga wajar saja bila dikatakan bahwa satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Zahra adalah Alfa.

Singkat cerita, mereka sudah sampai di ujung masa kuliah mereka, semasa kuliah Alfa sudah menerbitkan tiga buah novel. Bahkan selama ini kuliahnnya berasal dari hasil jerih payahnya menulis berbagai karya.

Zahra sukses di dunia jurnalistik televisi, tentunya dengan bantuan Alfa. Cita-cita dia memang ingin menjadi reporter, karena ia suka pekerjaan yang berbau jalan-jalan. Bahkan di masa akhir kuliahnya ini sudah ada penawaran untuk Zahra menjadi seorang reporter lapangan. Zahra begitu bahagia, dan Alfa tentunya sangat bangga.

Namun, secara diam-diam Alfa pergi menemui orang tua Zahra. Rasa takutnya mengungkapkan perasaannya langsung kepada Zahra membuat dirinya berfikir lebih baik langsung mengatakannya pada orang tua Zahra.

“Kamu siap membimbing Zahra?” tanya ayah Zahra yang bernama Pak Eko.

“Saya siap, pak,” balas Alfa dengan penuh percaya diri.

“Rumah tangga itu bukan hal sembarangan, Alfa,” kata ibu Zahra yang bernama Bu Asih.

“Insya Allah, saya siap dengan segala resikonya, Bu,’ balas Alfa.

Pak Eko dan Bu Asih saling menatap satu sama lain.

“Kami setuju, kalau kamu memang ingin serius dengan anak kami, Zahra. Tapi alangkah lebih baik jika kamu mengutarakan perasaan kamu terlebih dahulu pada Zahra,”

Alfa terdiam sejenak, ia berfikir bahwa akan menyakitkan bila dia ditolak mentah-mentah hanya karena dia tidak bisa melupakan masa lalunya. Aku akan coba, bismillah. Batinnya.

“Baiklah, Pak, Bu. Saya akan coba katakan pada Zahra bahwa saya ingin serius sama dia,”

Tak terasa hari wisuda sudah tiba, Alfa menemui Zahra yang tengah berbincang ria bersama teman-teman perempuannya.

“Zahra, boleh minta waktunya sebentar?” tanya Alfa.

“Kamu kayak ke siapa aja, pasti boleh dong,”

Alfa pun mengajak Zahra untuk berjalan-jalan di sekitar kampus.

“Kok, harus ke taman sih?” tanya Zahra

“biar enak aja, hehehe”

“Jadi kamu tuh mau ngomong apa?”

” Jadi gini, sebenernya aku sudah menahan semua ini, jadi sekarang saatnya akua mengatakannya,”

“Langsung aja Alfa. Gak usah belibet deh,”

“Aku mau melamar kamu,”

Zahra terdiam, matanya bahkan tidak berkedip sekali pun, badannya berubah kaku, dan juga wajahnya memerah bagai mawar yang menghiasi indahnya taman.

“Tapi aku baru mengatakannya sekarang, setelah orang tuamu menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan ini padamu terlebih dahulu,” lanjut Alfa.

“Kamu pergi ke rumah aku, kok gak kasih tahu aku sih?”

“Aku takut kamu melarangku, aku juga takut kau mengatakan bahwa kau masih terjebak masa lalu,”

Zahra tersenyum malu, ia bahkan sedikit tertawa. Dan itu membuat Alfa merasa aneh.

“Kok kamu ketawa, sih?” tanya Alfa sambil mengernyitkan dahinya.

“Selama ini, kamu sudah banyak berkorban buat aku, kamu udah memberi banyak pelajaran buat aku, kamu selalu melindungi aku, memberiku perhatian walaupun aku tidak memperdulikannya, dan juga, aku berharap kamu mampu dan mau jadi imamku,”

Mendengar jawaban Zahra, wajah Alfa memerah. Yes! Akhirnya penantianku tidak sia-sia. Batinnya. Ia tersenyum makin lebar, bahkan hampir menitikan air mata.

“lima tahun lamanya bersama, kini aku temukan tulang rusukku yang hilang,” gumam Alfa.

“Apa?”

“Nggak kok, hehehe,”

“Eh apa dulu ah?”

“Aku cinta kamu,” bisik Alfa pada Zahra.

Setelah mendapatkan gelar sarjana komunikasi, Alfa bekerja sebagai jurnalis profesional di salah satu media cetak, dan sekaligus menjadi penulis best seller yang tak pernah sepi undangan. Alfa benar-benar mewujudkan mimpinya untuk mewujudkan media informasi yang lebih baik dengan kejujuran.

Zahra yang selalu berpergian menjadi presenter televisi, terkadang lama tidak pulang ke rumah, ia berhasil mewujudkan cita-citanya, ia sudah mengunjungi berbagai tempat hebat di dunia, tapi semua pekerjaan itu, tidak membuat mereka patang arah untuk menikah.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

2 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".