Mengenalmu

Prankkk
“WANITA SIALAN! SUDAH KUBILANG, AKU TIDAK SELINGKUH! JANGAN—“
Cowok itu berusaha keras untuk menutup kedua telinga, usaha yang sia-sia untuk menghilangkan suara pertengkaran kedua orang tuanya. Ini sudah jadi makanan sehari-hari untuknya, justru akan aneh bila orang tuanya tidak bertengkar barang sehari saja.

Saghara Putra Ajidarma, biasa dipanggil Gara. Cowok dengan perawakan yang tampan dan tinggi, serta kulit eksotisnya itu mampu menarik perhatian para kaum hawa. Otaknya yang cerdas menyempurnakan penampilan cowok itu, membuat semua orang berpikir Gara sempurna tanpa celah. Tapi tidak, kesempurnaan hanya milik Tuhan, nyatanya Gara tak sesempurna yang terlihat. Keluarganya berantakan, kedua orang tuanya tak peduli pada. Beruntunglah Gara bertemu Dy.

Anindya Raga Soradira atau biasa dipanggil Dy. Cewek dengan senyum manis berlesung pipi yang selalu ada di sisi Gara. Cewek dengan ketidak sempurnaannya yang membuat Gara merasa nyaman bersama Dy.

Wajah Gara mengeras dengan gigi bergemeletuk saat ia mendengar suara tamparan keras. Berdiri, ia bergegas kearah kamar mandi dan mengambil sebuah bungkus kecil di ujung kotak peralatan mandi Gara. Mengeluarkannya isinya diatas wadah yang selalu tersimpan disana, Gara keluar kamar mandi dan kembali dengan sebuah kertas yang sudah ia gulung. Gara menghirup bubuk tersebut melalui hidung dengan menggunakan bantuan kertas tersebut.

Setelah puas, Gara merasakan kepalanya sedikit pusing. Hanya sedikit, lalu setelahnya ia merasa bagaikan di dunia lain. Dunia miliknya sendiri, hanya dia dan tidak ada yang lainnya. Gara keluar dari kamar mandi dan melangkah dengan terhuyung-huyung ke kasur. Menjatuhkan dirinya dengan senyum merekah indah di wajahnya.


Cewek itu terus memperhatikan pintu dihadapannya dan beralih ke gerbang rumah terus-menerus, menimbang-nimbang untuk mengetuk rumah itu atau pergi saja. Dy tidak tahu kenapa ia ragu, mungkin karena sudah lama tidak pernah berkunjung jadi ia ragu untuk masuk kedalam rumah tersebut. Dy lalu memberanikan diri untuk mengetuk dan masuk kedalamnya. Pertengkaran itu ternyata selesai, orang tua Gara tak lagi ada, hanya tersisa Bi Ijah yang di rumah “Permisi Bi, Garanya ada?” tanya Dy.
“Oh ada non, tadi mas Gara di kamar, langsung aja ke kamarnya non,” jawab wanita paruh baya itu. Langkah kaki yang tak tau terasa begitu berat, namun di sisi lain Dy harus melihat kondisi Gara.
Ternyata Dy tak lagi menemukan Gara di kamar. Gara pergi keluar untuk mencari kebahagiaan yang berlipat, ya pesta narkoba dengan bandar dan pengedarnya.


Wiuw wiuw wiuw
Suara sirine mobil polisi terdengar semakin dekat. Para remaja dan dewasa yang sempat sempoyongan karena narkoba segera berlari meninggalkan Gara yang sudah tak berdaya. Polisi pun mendekat, dan melihat Gara yang sudah hampir tak sadarkan diri karena narkoba, untuk mengelak pun Gara tak mampu. Dibawanya Gara oleh polisi itu ke rumah sakit, namun dengan tangan yang diborgol pada ranjangnya, dan juga banyak polisi di sekelilingnya.
Gara yang sudah tersadar bertanya-tanya mengapa dia ada disini. Polisi itu tak menjawab pertanyaannya, namun langsung membawanya ke kantor polisi. Gara baru tersadar bahwa dia akan di penjara. “Pak, saya boleh pinjam ponsel saya? Saya mau menghubungi adik saya,” pinta Gara.
“Silahkan, jangan lama-lama,” jawab polisi yang menjaganya.
“Halo Dy, kamu dimana? Aku boleh minta tolong nggak? Tapi kalo nggak mau nggak papa sih.”
“Iya minta tolong apa Gara?”
“Aku sekarang ada di tahanan polisi, aku takut sendiri disini, dan aku nggak tau harus gimana dan bilang apa sama bunda,” kata Gara sembari menangis.
“Kenapa kamu sampai masuk penjara, kamu dimana? Kirim alamatnya aku kesana sekarang!” kata Dy sambil menutup telfonnya.


“Apa yang kamu lakukan sampai kamu masuk penjara Gara?” kata Dy sembar menangis.
“Maafkan aku, maafkan aku Dy!” Gara memeluk Dy dan menangis.
“Kamu sudah melakukannya, jadi kamu juga harus tanggung jawab, dan ini semua akibat kamu memilihnya,” kata Dy yang masih menangis.
Gara mengguman pelan “Sekolahku hancur, persahabatanku pernah hancur, dan prestasiku hancur. Bukan hanya karena orang tuaku yang gak peduli lagi tetapi ditambah aku bermain dengan narkoba ini.”
“Apa kamu bilang? Narkoba?”
“Iya Dy, narkoba, aku disini karena barang haram itu, dan sekarang aku tak tau bagaimana aku memberi kabar pada orang tuaku.” Mendengar itu, Dy langsung meninggalkan Gara untuk menemui orangtua Gara.


Dy datang ke rumah Gara. Ia merasa ragu untuk memberi tahu kedua orangtuanya, namun dia mencoba memberanikan diri.
“Assalamualaikum.” Tak ada sahutan, tetapi pintu sedikit terbuka, saat Dy mengintip ternyata ayah Gara akan mencoba menampar istrinya.
“Hentikan, Om!” Dy berlari menuju ibu Gara.
“Dy? Ngapain kamu disini?” Tanya ibu gara.
“Eum… Gini tan, gara ditahan polisi gara gara ketahuan lagi pesta narkoba,” tutur Dy.
“Apa? Narkoba? Ini semua salah kamu! Kamu gak becus ngurus anak! Lihat sekarang pewaris tunggal perusahaan terjerat narkoba! Mau ditaruh dimana mukaku hah?!” Ayah gara murka.
“Hey! Mengapa kau menyalahkan ku? Bukan kah ini salahmu juga dan—” ucapan ibu gara terpotong oleh Dy.
“Stop! Ini salah kalian berdua! Kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian masing-masing sampai kalian mengabaikan anak kalian! Dia merasa tertekan, setiap hari mendengar dan melihat adu mulut kalian!” ucap Dy tak bisa menahan emosinya. Mendengar itu orang tua gara hanya terdiam. Mereka sadar apa yang telah mereka lakukan selama ini berdampak pada anaknya, Gara.
“Antar kami kepada gara, sekarang,” ucap ayah gara dingin
“Ba..ba..baik,” jawab Dy.
Sesampai di tempat rehabilitasi, ibu dan ayah gara langsung memeluk gara sambil menangis. Gara yang sudah lama merindukan pelukan itu membalas memeluknya sambil menangis pula. Setelah melepaskan pelukan, mereka meminta maaf kepada gara dan janji tidak akan bertengkar lagi. Gara senang mendengar itu.
Saat Gara melihat Dy, ia merasa bersalah padanya dan hendak meminta maaf namun Dy sudah memaafkannya. Gara merasa ini adalah malam yang sangat indah.
Setiap hari setelah pulang sekolah, Dy selalu datang ke tempat rehabilitasi menemani gara agar terbebas dari benda jahat itu.
4 bulan telah berlalu, dan kini gara telah terbebas dari narkoba berkat dukungan dari orangtuanya dan sahabatnya, Dy.
Gara menikmati harinya seperti biasa lagi. Dengan penuh kasih sayang dari orang tua dan sahabatnya, Dy.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".