Malam itu ku duduk diatas balkon rumah bersama Tio. Kali ini aku sepakat dengan Tio akan melihat gerhana bulan. Segala kebutuhan kupersiapkan bersama dengan Tio. Malam gerhana bulan ini telah lamaku nanti, dengan dinginnya malam yang dihiasi dengan bulan berwarna merah jambu. Malam itu adalah salah satu malam kenangan yang terlupakan bersama sahabat masa kecilku. Sahabat yang sudah ku anggap kakak ku sendiri.

Hari mulai gelap, semua rencana telah kupersiapkan. Aku mencoba menghubungi Tio mengingatkan rencana malam ini. “kak malam ini jadikan? jangan telat ya.” pesan singkatku kirim pada Tio. “iya, sebentar lagi kakak berangkat” jawab Tio membalas pesan singkatku.

Malam ini rasanya tak sabar ku menunggu. Duduk berdua diatas balkon. Terlihat dari ujung barat balkon tempatku duduk, Tio berjalan kearah ku dengan senyum manisnya. Nampak terlihat raut muka bahagia dari Tio. “hai Indah” sapa Tio padaku penuh ceria. “hai kak, duduk” jawab ku sendu. Tio segera duduk disampingku dengan ponsel yang digengamnya.

Dinginnya malam yang menembus kulitku, dengan dihiasi pancaran bulan merah jambu. “Indah, malam ini adalah malam yang terindah yang pernah kakak lihat, apalagi bareng adik kesayangan kakak” ucap Tio sambil mengusap rambutku. Aku hanya terseyum manis melihatnya. Canda tawa yang muncul bersama Tio, sambil menikmati snack yang telah persiapkan.
Brak….

Aku tersadar saat sebuah buku yang ku pegang terjatuh, sungguh indah jika mengingat kenangan itu. Kenangan yang membuatku rindu pada sesosok sahabat sekaligus kakakku. Dua tahun ku tak lagi menemuinya, bukan karena kami bertengkar. Tapi ini karena Tio yang telah lebih dahulu dipanggil sang kuasa. Kini aku hanya termenung di atas balkon rumahku melihat gerhana bulan yang Nampak indah di angkasa.

Aku percaya malam ini Tio pasti sedang menikmatinya di alam sana. Bagaimana tidak Tio sesorang yang semangat menunggu kehadiran gerhana bulan. Tanpa sadar air mataku menetes. Akupun diam terpaku. Aku teringat kenangan bersama Tio, “Tuhan lebih sayang dengan kak Tio, semoga bahagia dialam sana kak” ucapku dengan sendu
Sebuah fenomena yang menjadi kenangan indah kini terulang lagi.

Namun tak seindah saat-saat bersama Tio, kini aku hanya termenung sendiri. Tiba-tiba, ku rasakan kehadiran sesorang berada nyata tepat di depanku. Ia dating perlahan-lahan. langkah itu menggeratak lamunan, ketika seseorang memanggilku dari belakang. Ibu menyuruhku untuk segera beranjak tidur. Malam itu Tio seakan nyata hadir bersama gerhana bulan malam ini. Entahlah, mungkin ini hanya terlalu rindu pada Tio.

Aku beranjak pergi kemar tidur sambil mengingat kenangan bersama Tio. Air mata pun berlinang. Aku tak tahu jika itu adalah malam terakhirku bersama Tio. “lihatlah gerhana bulan ini berbeda dengan bulan lainnya, seperti kamu yang terlihat sangat berbeda pada malam ini” ucap Tio sambil merayuku. Aku hanya terseyum malu-malu mengingat kenangan itu.

seperti lagu sendu yang biasa ku dengar dengannya, sudah cukup untuk menghibur atas kedatangnnya. Tak lama mataku semakin sayu aliran musik sendu kesukakan Tio yang ku dengar membuat mataku ingin terlelap dalam tidur. Aku ingin memimpikan kehadirannya.

 

Memories The Lunar Eclipse
oleh kelompok 2
Ismatul Izzah
Saskia Monalisa
Rosidah
Ariski
Irnanda Yusman
Regita
Tina Erdiana
Mohamad Sholihin
Dea Widia Agustina

 

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".