Ku Tak Bisa Menggapaimu

Di bawah terang rembulan yang sedikit tertutupi awan, aku menulis. Nuansa malam ini memaksaku menggerakkan jari jemariku. Melodi itu begitu menyihir hingga aku teringat sebuah kalimat.
“Satu rahasia iblis yang lama tersimpan adalah mereka merasa dengki tak bisa mencintai sebagaimana manusia.”
Karena, mungkin iblis sebetulnya sangat tahu apa itu cinta, bahkan lebih faham dari apa yang kita ketahui. Hanya, maraca tak dapat merasakannya sebagaimana manusia. Barang kali, itulah dalil bagi sejarah kedengkian.

“ Ha, apa kabar kamu wahai hati yang retak, sudahkah kau sembuh, dan adakah retak ini akan terus tertancap dihati ini?” Kata itu yang sekarang hanya terniang-niang diotak ini, hati yang hancur berkeping-keping karena salah memaknai apa itu cinta.

Hanya ini yang bisa kuungkapan dimalam yang sunyi senyap ini, tulisan yang mungkin tak berarti bagimu. Tapi meskipun begitu izinkanlah seoonggok daging ini bercerita, bercerita tentang seberapa besar hati ini retak setelah cinta itu pergi, cinta yang selalu dieluh-eluhkan, cinta yang selalu tertancap dihati, sampai-sampai lupa bahwa hati hanyalah separuh dari jiwa yang hina ini.

Ya, hanya kata-kata itulah yang sanggup kutulis di secarik kertas kosong yang tak ada artinya. Sama sekali tak diukir dengan ukiran-ukiran kata yang indah oleh para insan di bumi ini, sambil ditemani sang rembulan yang hanya dia yang ada disini. Kata-kata yang kutulis untuk yang dinanti.
“Aku disini wahai cinta, apakah kau tak mendengarnya?” Ucap seorang anak perempuan yang mengeluhkan kisahnya pada sang rembulan yang setia menemaninya malam itu.
“ Aku sakit, apakah hati yang retak ini dapat terobati? Dinanakah kau yang dinanti, aku menunggumu sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya agar tak menunggu.” Ucap gadis itu sekali lagi.

Ya, dia Kinai seorang gadis manis yang dikisahkan mempunyai seorang sahabat bernama Ardhini. Ardhini gadis cantik, ramah, baik dan humoris berbeda dengan Kinai yang selalu serius dalam menanggapi semua hal. Perbedaan inilah yang membuat persahabatan mereka unik, mereka saling mengisi satu sama lain. Mereka menghabiskan waktu dengan bersama seperti diibaratkan “ Takkan ada semut kalau tak ada Gula.” Sayang, suatu ketika cinta persaudaraan mereka diguncang ombak kecil yang menguji cinta dan kasih yang selama ini mereka bangun.


Pagi itu ardhini dan Kinai hendak berangkat ngampus bareng, mereka pergi dengan menggunakan mobil. Di perjalan mereka habiskan dengan bercengkrama ria, mulai menceritakan tentang kuliah, teman-teman dikampus, sampai tentang pernikahan mereka nanti seperti apa. Ditengah-tengah mereka mengobrol tak sengaja konsentrasi Kinai yang menyetir mobil itu tiba-tiba hilang fokus dan menabrak sebuah pagar. Seketika itulah Ardhini dan Kinai mengalami kecelakaan yang cukup parah, Ardhini mengeluarkan darah sangat banyak dari kepala serta hidungnya tetapi untunglah tidak dengan Kinai. Tuhan masih melindunginya, ia hanya mengalami luka ringan. Kepalanya terbentur tapi kakinya terjepit karena mobilnya yang penyok meng-hantam pagar dengan keras. Tapi untunglah dikala kecelakaan itu terjaddi jalan tengah ramai sehingga dengan sangat sigap para warga menolong mereka berdua dan langsung membawa mereka kerumah sakit.

Didalam rumah sakitpun mereka berdua langsung ditangani dengan baik. Ardhini harus dioperasi hari itu juga karena rongga dadanya patah dan iapun mengeluarkan darah sangat banyak. Dan Kinai dengan sangat terpaksa harus kehilangan kedua kakinya yang selama ini selalu menopangnya kemanapun ia pergi. Mendapati kenyataan itu Kinai sangat terpukul ditambah lagi ternyata setelah opersi Ardhini berlangsung Ardhini, mengalami koma. Kinai sangat terpukul dan terpuruk . Ia tak tahu harus mengeluh ke siapa tentang bendungan kesedihannya ini, yang ia tahu sekarang ia cacat dan kemungkinan besar, cepat ataupun lambat ia akan kehilangan cintanya itu cinta persahabatan yang 20 tahun ia bangun, susah sedih mereka lalui bersama. Namun untunglah dikala mendung datang sinar terangpun datang kedua orang tuannya pulang ke Indonesia setelah berbulan-bulan menetap di Amerika. Setiba kedua orang tuannya datang Kinai langsung memeluk kedua orang tuanya itu. Dan kedua orangtuanya berkata,
“ Mama, Papa ( menangis tak terbendung lagi), aku gak mau cacat Ma, gak mau ( dengan
suara dan nada sangat terpukul ) ”
“ Iya Sayang( sambil memeluk anakanya dan menangis )”
“ Maama( masih menangis dipelukkan ibunya itu dan tak berselang ia langsung teringat dengan Ardhini ), Ma Ardhini Ma Ardhini, Mama cepat bawa aku ke Dia Ma, akuu mau liat keadaannya Ma ( sambil menangis dan meronta-ronta agar ibunya mengabulkan permintaannya itu dan akhirnya ibunyapun menuruti keinginan anaknya itu ) ”

Dibalik kaca ruang IGD Kinai menagis meratapi nasib sahabatnya itu sambil mengingat-ingat masa kebersamaan mereka dan juga masa kecelakaan itu. Iapun berkata dalam hati,”Maaf Ar, aku tak bermaksud membuatmu seperti ini, ku mohon bangun Ar bangun aku butuh kamu, kamu gak boleh pergi duluan kamu ingatkan janji kita
“ Bila Nafasku lepas, langkahku hilang, bayangmu tetap Kawan. Jadi plissss tolong bangun !”
Tak berselang Kinai berkata seperti itu, ibunyapun langsung mendorongnya bersama kursi rodanya menepi dari ruangan tempat Ardhini berada sambil diiring Kinai yang tak sedikitpun matanya berpaling dari Ardhini sambil meneteskan air mata.

1 bulanpun berlalu,

Keadaan Ardhinipun tetap masih seperti dalam keadaan sebelumnya. Di ruang perawatannya Kinai sedang bersiap-siap untuk pulang karena keadaannya telah membaik dan psikologisnya pun sudah stabil dikala sebelumnya ia sangat tak terkontrol ia suka ngamuk-ngamuk sendiri, dan selalu mengigaukan Ardhini . Sambil dibantu dengan asisten rumah tangganya dan kedua orang tuany,a Kinaipun segera meninggalkan tempat itu dan beristirahat dirumahnya.

Tibalah malam tiba, Kinay melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah ia solat dengan sangat khusuknya dan tak terasa semua rakaatpun telah usai ia jalani. Dan sebelum ia merampungkan kewajibannya itu iapun berdoa sambil bercucuran air mata, berdoa akan kesembuhan dan keajaiban dari yang Maha Kuasa akan nasib sahabat terkasihnya itu. Tak lupa juga ia berdoa untuk selalu dikuatkan akan cobaan yang ada dan telah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya.

Hari demi haripun berlalu, setiap hari Kinay kerumah sakit menjenguk dan merawat sahabatnya itu, memandikannya, menyelimutinya, dan bahkan tak jarang mereka bercengkrama ria mengenag kisah-kisah mereka selama ini meskipun Ardhini hanya terbaring kaku tak bersuara ataupun merespon apa yang Kinay ceritakan. Hingga waktupun semakin berlalu namun Ardhini tetap seperti keadaannya sebelumnya tak ada perubahan, hingga kedua orang tua Kinaipun merasa sedih dan tak tahan melihat anak mereka setiap hari dengan sabar dan penuh harapnya menjaga dan merawat sahabatnya itu, hingga merekapun berinisiatip untuk membawa Kinai menjauhi Ardhini dengan harapan anaknya itu tak sedih lagi, merekapun sepakat membawa anak semata wayangnya itu untuk bersama mereka menetap di Amerika. Sontak hal ini membuat Kinai sedih sekaligus kecewa dengan kedua orang tuanya itu.

“ Papa dan Mama jahattt, mana mungkin aku meninggalkannnya sedangkan dia dalam keadaan seperti ini ? Enggak Ma, enggak! Sampai kapanpun aku akan tetap disini bersama Dhini hidup ataupun mati.” Ucap Kinai marah dan iapun langsung meninggalkan kedua orang tuannya itu. hingga pada suatu ketika Kinay pun merasa putus asa, hilang arah ia tak tahu harus bagaimana dan harus apa untuk sahabatnya itu karena sudah hampir 2 bulan Ardhini tak menunjukkan perubahan. Iapun menuruti keinginan kedua orang tuanya yang terus menerus merayu agar pergi bersama mereka.

“ baik aku akan ikut mama dan Papa ke Amerika ( dengan nada dan raut wajah sedih dan berat ), tapi dengan satu syarat mama dan papa harus carikan Ardhini dokter yang paling bagus untuk merawat dia sampai dia sadar dan sembuh.
Mendengar perkataan anaknya itu dua sejoli inipun merasa bahagia dan menyanggupi syarat dari anaknya .

Tibalah hari dimana semua yang pahit itu terjadi, hari dimana Kinay dengan sangat terpaksa harus mengingkari janji persahabatannya dengan Ardhini yaitu “ Bila Nafasku lepas, langkahku hilang, Tapi bayangmu tetap Kawan” yang dimana artinya meskipun kematian yang memisahkan dan kehidupanpun ikut memisahkan, tapi kenangan dan persahabatan yang dibagun atas landasan cinta semua itu takkan pernah pergi. Yaa Kinai mengingkarinya bukan karena tak cinta ataupun sayang dengan sahabatnya itu tapi karena keputus asaan yang melanda hatinya dengan sangat dasyat dan ia tak tahu arah kemana lagi ia harus berjuang dalam kesendiriannya ini.

Ketiga sejoli itu ( Papa,Mama dan Kinai) pun sudah berada didalam pesawat yang sebentar lagi akan terbang. Kinai selalu meneteskan air mata mengingat semua yang ada, dan ia tuliskan dalam sebuah untaian kertas kosong, ia curahkan semuanya sampai iapun tak sadar kertas itu basah karena butiran-butiran air yang keluar dari kelopak matanya yang indah itu…..

Pernahkah kau berpikir kita yang suatu hari dipertemukan, lalu pertemuan itu menjadi kisah-kisah yang tertancap sangat dalam dikehidupan kita masing-masing kau dan aku sangatlah berbeda. Kau menjalani hidup ini penuh semagat dan penuh senyum meskipun kutahu hatimu tak sekuat dan tegar seperti apa yang kau tontonkan kepadaku, hidupmu begitu pahit, dari kau seonggok daging kecil yang hanya berberatkan 15 ons kedua malaikat tak bersayapmu pergi meninggalkanmu hingga kaupun dirawat oleh kedua malaikat tak bersayapku yaitu ayah ibuku. Lalu kita berduapun tumbuh bersama, kau seperti setengah diriku apa yang aku makan,pakai dan alami kau ikut merasakannya . Tak sedikitpun terdengar di telingaku kau mengeluhkan kehidupanmu yang pahit, malah kau taburkan cinta dikehidupanku. Tapi hari ini aku pergi dengan tak berdosanya meninggalkan dikala kau sangat butuh akuuuu, sahabat maaf aku pergi, ku pergi bukan tak cinta dan sayang padamu tapi aku tak tahu harus apa dan seperti apa, sungguhku tak kuat menahannya, setiap hari hatiku retak melihat keadaanmu sekarang ini, sungguhhh…. Sekali lagi maaf aku pergiiii (Sambil menulis Kinai pun menangis sambil membayangkan semua kenangan mereka selama bersama dari sejak kecil hingga sedewasa ini).

Hingga 1 tahunpun sudah berlalu….

Kala itu didalam ruang IGD semua dokter yang mengani Ardhini berada diruangannya mereka memeriksa keadaan gadis itu karena mereka mendapati ada sebuah pergerakkan dikala sebelumnya seorang suster memeriksanya. Semua dokter itu sekuat tenaga menangani Ardhini dengan teliti dan penuh harapan hingga akhirnya sepasang bola mata yang selama setahun ini tertutup rapat kembali terbuka melihat dunia ini . Semua dokter merasa bahagia akan kesadaran pasien.
“ Syukur alhamdulilah dia sudah sadar, cepat hubungi keluarganya!” ucap seorang dokter
Mendengar itu salah satu susterpun dengan spontan menjawab “Maaf Dok, keluarganya tidak ada. Sudah setahun ini tak seorangpun menjenguknya Dok. ”

“Kasihan sekali nasib anak ini, yasudah,kamu terus awasi perkembangannya dan jika bagus pindahkan dia ke UGD.” Ucap salah seorang dokter dan semua dokter yang adapun meninggalkan ruangan itu, begitupun para suster )

Setelah semua dokter dan suster pergi, Ardhini perlahan melihat keadaan sekeliling dan membayangkan perkataan sang dokter yang sempat ia dengar. Spontan hal ini langsung membuatnya meneteskan air mata.

“ Kinai, kamu dimana ( dengan lirih ) apakah yang mereka maksud itu Kamu, Om dan Tante?”

Hari demi haripun berlalu, Ardhinipun sembuh total dan sudah bersiap-siap untuk pulang, namun ada satu hal yang sangat menyayat hatinya, saat ia sadar, ia proses pemulihan bahkan sampai ia akan pulang Kinai tak sedikitpun memunculkan batang hidungnya.

“ Kinai sungguh tega kau, kau anggap aku seperti sampai sehabis dipakai kau buang begitu saja ( sambil membayangi semua kenangannya bersama kinai dikala mereka bermain ditaman, bercengkrama ria, makan es krim bareng). Iapun membereskan barangnya sambil bercucuran air mata.

Sambil diiringi Ardhini yang berberes, terdengarlah sebuah puisi mereka yang mereka berdua tulis dan ucap: Persahabatan adalah sesuatu yang hidup. Yang berlangsung selama masih saling memberi kebaikan, empati dan pengertian. Persahabatan merupakan salah satu ikatan terdalam dalam kehidupan yang ditempa melalui rasa saling percaya, dukungan tanpa syarat dan tidak mementingkan diri sendiri. Cukup sulit untuk membatasi arti sebenarnya dari persahabatan hanya dengan ungkapan beberapa kata. Namun terlalu rumit jika harus dijabarkan dengan kalimat mengular. Lantas, seberapa dalam makna sebuah persahabatan?, kemudian kisahpun dilanjutkan denga Ardhini yang sudah siap meninggalkan ruangan itu dan pergi dengan wajah sedih…..

Dilain posisi, Kinay mengurung diri, bersedih dan menyesal, hal ini dibuktikan dengan keadaan kamarnya yang dipenuhi dengan surat-surat yang tak pernah ia kirim. Ya sudah setahun surat-surat itulah saksi bisu kehampaan,keputusasaan dan penyesalan ia karena meninggalkan sesorang yang sangat berarti dikehidupannya. Kinaypun menghabiskan waktu dengan merenung didekat kaca jendelanya, disela perenungannya itu ia mendengar sebuah percakapan.
“ Iya, kamu uruslah, meskipun ia sudah sadar, usirr( marah ) saya tidak mau dia dekat-dekat lagi dengan anak saya, cukup hancur hidupnya gara-gara perempuan itu ”

Mendengar suara itu Kinay tersadarkan dan mendekati sumbersuara itu yang berada dibalik dinding kamarnya, dan spontan setelah mendegar semuanya iapun langsung membuka pintu kamarnya dan menuju kamar ayahnya karena ternyata sumber suara yang ia dengar itu adalah suara yang berada dikamar ayahnya.

“Papa!(spontan sang ayah terkejut dan langsung mematikan teleponnya) Yang papa maksud menghancurkan hidupku, Dhini pa? Iya? Dhini?!(marah)
Mendengar semua itu papanya langsung gugup tak berkutik lagi.

“ kenapa Pa? Kenapa? Sudah kuduga Papa tega memisahkan kami sedangkan papa tahu aku sayang sama Dhini begitupun Dhini, Papa tega tinggalin dia hanya untuk keegoisaan Papa ( marah sambil menangis ). ”

“ Enggak Sayang, enggak! ( mendekati anaknya sambil mencoba menjelaskan ) Papa lakukan hanya karena Papa sedih melihat kamu seperti ini selalu murung, sedih dan Papa gak mau kamu sedih ”.

“ Papa tega!( ucap Kinai sambil menangis dan pergi meninggalkan ayahnya itu dengan kursi rodanya ) ”

Akhirnya semuanyapun terbongkar, kebohongan kedua orangtuanya itu yang berusaha memisahkan Kinay dan Ardhini. Karena terbongkarnya semua itu Kinaipun langsung pulang ke Indonesia dan menemui sahabatnya itu hendak menjelaskan semuanya, Namun sayang semuanya terlambat sesampai dirumahnya yang ada di Jakarta, ia tak melihat Ardhini disana, dia sudah mencari sahabatnya itu kemana-mana. Namun hasilnya nihil dan iapun tark tahu keberadaan sahabatnya itu sekarang.

” Ku tak bisa menggapaimu ”
Juara I dalam lomba karya tulis cerita mini.
Oleh
Komunitas sastra paradigma imaji (III)

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

1 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".