Kisah Pohon Asam dan Istana Raja

Alkisah, di suatu negeri subur nan hijau terdapat sebuah kerajaan kecil yang tangguh dan indah bernama kerjaan Coco Mokulat. Kerajaan tersebut baru berusia sepuluh tahunan, dan baru dipimpin oleh satu orang raja bernama Kinakea yang bergelar Sri Paduka Mangkunegoro I selama satu decade. Sang Sri Paduka Mangkunegoro I menempati sebuah istana yang cukup sederhana , yaitu sebuah rumah tempat persinggahan para pejabat kerajaan tetangga sebelum kerajaan itu terbentuk.

Kerajaan Coco Mokulat merupakan pecahan dari kerajaan Comulaka, sebuah kerajaan besar yang berada di posisi tenggara negeri yang dijuluki bumi Mata Langkang. Kerajan Coco Mokulat dimekarkan dari Comulaka dengan harapan pelayanan terhadap rakyat bisa lebih cepat, ramah, dan efektif sehingga kesejahteraan rakyat yang menjadi impian setiap negeri bisa cepat diraih. Raja Comulaka  rela melepas sebagian wilayahnya karena sadar akan keterbatasan jangkauan pelayanannya, dan yakin bahwa hijau dan suburnya tanah yang dilepasnya akan lebih mudah dikelola dengan baik oleh raja di daerah itu.

Betul saja, Sri Paduka Mangkunegoro I, si Kinakea, selama kepemimpinannya berhasil menata daerah itu dengan baik dan indah. Bangunan-bangunan, jalan-jalan, pasar-pasar, permandian-permandian rakyat, dan bangunan kerajaan ditata sedemikian indahnya. Namun, sampai berakhir masa pemerintahannya, si Kinakea tetap saja tak mendirikan istana megah untuk dirinya sendiri. Beliau tetap memilih untuk tinggal di istana sederhana tempat persinggahan itu sampai akhir hayatnya.

Setelah sang Raja Sri Paduka Mangkunegoro mangkat, Dewan Adat Lima melakukan pemilihan raja penggantinya. Dewan Adat Lima adalah penasehat kerajaan sekaligus tetua adat yang juga berfungsi sebagai menteri kerajaan. Kerajaan Coco Mokulat ini memang memiliki aturan yang unik, yaitu Raja diajukan langsung oleh rakyat, kemudian dipilih dan atau ditetapkan oleh Dewan Adat Lima, bukan dipilih langsung dari garis keturunan sang Raja.

Dua calon Raja diajukan, yaitu Kirakiyat dan Kianury. Kedua orang itu diajukan setelah Dewan Adat Lima mengumumkan kepada rakyat negeri itu untuk mengajukan nama atau nama-nama calon Raja yang disepakati oleh rakyat. Karena tidak menghasilkan kesepakatan satu nama di antara mereka, diajukanlah kedua nama tersebut yang akhirnya akan dipilih dan ditetapkan oleh Dewan Adat Lima. Keduanya dianggap layak menjadi raja berdasarkan berbagai pertimbangan.

Proses pemilihan pun akhirnya harus dilakukan oleh para tetua adat di Dewan Adat Lima. Rapat Dewan Adat Lima berlangsung alot. Tensi emosi dan tekanan-tekanan psiklogis tak jarang terlihat di wajah mereka. Mereka saling bergantian, bahkan sesekali saling memaksakan berbagai pertimbangan  dan alasan kenapa mereka memilih si Kirakiyat atau si Kianury. Proses rapat Dewan Adat Lima berjalan cukup lama dan panas. Susana rakyat yang menanti hasil putusan dewan adat juga tak kalah panasnya.

Ya, proses pemilihan Raja kali ini telah membuat rakyat Coco Mokulat terpolarisasi. Satu kelompok memilih Kirakiyat atas berbagai pertimbangan, sementara kelompok satunya lagi memilih Kianury, juga dengan pertimbangan yang kokoh. Polarisasi itu akhirnya menimbulkan sentiment dan esklusi di antara rakyat Coco Mokulat. Bahkan beberapa kali insiden kekerasan fisik terjadi di atara sesama mereka. Polarisasi itu bahkan sempat mengarah ke perang saudara, yang hampir saja membuat negeri itu hancur luluh lantah.

Untung saja Dewan Adat Lima segera mengambil keputusan begitu mengetahui situasi itu. Berbagai pertimbangan yang lama mereka perdebatkan pada prinsipnya dapat diringkas kedalam dua hal, yaitu tentang karakter personal, dan karakter kepemimpinan masing-masing kandidat. Kirakiyat diidentikkan merakyat, karena dianggap gampang berbaur dengan rakyat kecil sekalipun. Namun beliau dianggap rawan dalam memimpin meskipun memiliki kecakapan, sebab beliau dianggap temperamen, dan sulit mengendalikan emosi. Sementara itu, Kianury diidentikkan berjarak dengan rakyat karena selama ini dianggap hanya bergaul dengan elit kerajaan, dan para bangsawan, hamper tidak pernah berbaur lama dengan rakyat kecil. Namun, beliau dianggap memiliki kewibawaan dalam memimpin, dan cakap sebab berpengalaman sebagai pejabat negeri.

Akhirnya ditutuplah rapat Dewan Adat Lima setelah tiga di antara Lima tetua adat itu memilih Kianury melalui pemungutan suara. Sementara dua yang lainnya ikut mengamini karena kalah jumlah meskipun sebelumnya memilih Kirakiyat. Dewan Adat Lima menetapkan Kianury sebagai Raja Baru Coco Mokulat. Keputusan itu segera diumumkan ke seluruh rakyat kerajaan itu seraya mengajak mereka untuk berkumpul di Baliurang Kerajaan esok harinya untuk menyaksikan pelantikan dan mendengarkan Titah Pembuka sang raja baru. Dewan Adat Lima tak henti-hentinya mengucap syukur ke Dewata Agung atas terhindarnya negeri itu dari musibah perang saudara akibat dari proses pemilihan itu.

Setelah semua persiapan selesai, dan rakyat berkumpul di Baliurang, pelantikan segera dilakukan. Kianury dilantik menjadi Raja Coco Mokulat bergelar Sri Paduka Mangkunegoro II. Titah pembuka sang Raja Sri Paduka Mangkunegoro II pun disampaikan.

“… Aku, Kianury, Raja Sri Paduka Mangkunegoro II adalah raja seluruh rakyat Coco Mokulat. Aku bukan raja si A atau si B saja. Aku bukan raja satu kelompok saja. Tapi aku adalah raja seluruh rakyat negeri ini. Tugasku adalah melayani  semua rakyat negeri ini. Tanggung jawabku adalah melindungi segenap rakyat negeri ini.  Kewajibanku adalah memakmurkan seluruh rakyat negeri ini . Untuk itu, wahai rakyatku  di seluruh Coco Mokulat, singkirkanlah segala permusuhan yang timbul selama proses pemilihan yang lalu. Sisihkanlah segala amarah yang pernah timbul di antara kalian. Rangkullah dan peluk eratlah saudara-saudara kalian sesama rakyat kerajaan ini tanpa melihat pilihan mereka.

Wahai penduduk negeri Coco Mokulat  yang tanahnya diberkati oleh sang Dewata Agung. Bersatulah. Pererat persatuan kalian. Saling tolong-menolonglah kalian demi kemakmuran negeri ini. Saling kasih mengasihilah kalian demi kebaikan negeri ini. Negeri tempat kita lahir, hidup, dan akan mati.

Wahai penduduk Kerajaan Coco Mokulat, aku Kianury, Raja Sri Paduka Mangkunegoro II adalah Pelayan, Pelindung, dan Pengayom seluruh rakyat negeri ini.”

Setelah seluruh rangkaian pelantikan selesai, Sang Raja berpindah ke rumahnya yang baru. Sebuah rumah megah, hadiah dari saudagar kaya di negeri itu. Rumah yang kemudian diberi nama Istana Banua Datar. Dari istana inilah pelayanan terhadap rakyat dijalankan. Pembangunan kerajaan segera dijalankan. Sektor-sektor yang luput dari Raja sebelumnya segera digenjot pembangunannya.

Kianury, sang Raja Sri Paduka Mangkunegoro II, mulai nampak berbeda dari sebelumnya perlahan demi perlahan. Selalu mulai nampak senyum dibibirnya. Turun melihat dan menyapa rakyat kecil juga mulai dilakukannya. Berkeliling dari kampung ke kampung negerinya mulai sering dilakoninya.  Tawa dan sapaan hangat mulai sering diperlihatkannya tak kala ada rakyat yang datang mengadu di istananya. Semua rakyat mulai senang dengannya. Kesan keberjarakan dengan rakyatnya mulai dikikisnya.  Rakyat kerajaan itu tentu lebih senang ketika itu terus bertahan. Semoga saja!

Hampir tak ada hambatan dan hal risih yang membuat rakyat enggan mengadu langsung ke istananya. Kecuali sebagian kecil dari orang yang seringkali berkumpul di bawah pohon Asam di samping Istana Banua Datar itu.  Ya, memang terdapat pohon asam yang cukup rindang pas di samping istana itu. Tempat yang baik untuk menanti sang Raja siap menerima rakyatnya yang lain. Namun, tak sedikit yang bercerita bahwa ada beberapa orang yang seringkali memperlihatkan senyum masam, bahkan tatapan sinis dari bawah pohon itu. Apalagi ke rakyat yang mereka identifikasi bukan pendukung sebelumnya dari Raja mereka, atau ke rakyat yang mereka anggap jelata dan kurang kontribusi dalam kemenangan raja mereka.

Tak sedikit orang berharap bahwa pemandangan itu harusnya tak perlu ada disana. Bukankah semestinya pikiran bahwa Kianury, sang Raja Sri Paduka Mangkunegoro II,  itu adalah hanya milik mereka tak lagi perlu ada? Beliau adalah raja seluruh rakyat negeri Coco Mokulat sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau sendiri dalam Titah Pembukanya. Tidakkah mereka ingat titah Sang Raja untuk merangkul dan memeluk erat saudaranya tanpa melihat pilihan mereka sebelumnya? Tidakkah mereka tahu bahwa titah Raja adalah perintah? Ataukah mereka memang sudah berani membangkang dari titah itu?

Rakyat Kerajaan Coco Mokulat berharap bisa bertemu dengan rajanya, Kianury, Raja Sri Paduka Mangkunegoro II di Istana Banua Datar dengan perasaan senang tanpa harus merasa segan ketika berjalan melewati pohon Asam di samping istana itu. Mereka pun menaruh harapan ada senyum manis yang tersungging dari bawa pohon itu tiap mereka menanti sang Raja.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

1 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".