Jari itu dengan lihai bermain di atas kain yang tak terlalu lebar. Dengan jeli, ia memasukkan jarum lalu menari di atasnya. Menjahit sampai tak terasa senja telah datang. Terburu-buru ia menyelasaikan jahitan bajunya sebelum suaminya datang memarahi karna belum masuk ke dalam rumah.

“Akh!” pekiknya saat benda kecil nan tajam menusuk jari telunjuk.

“Ana! Kan aku udah bilang, lanjutin besok aja.” Sang suami datang, ia berjongkok dihadapan istrinya. Memasukan jari yang berdarah kedalam mulutnya, menyerap darah lalu mengeluarkannya.

“Masih sakit?” tanyanya setelah meniup jari mungil itu.

Ana menggeleng, ia kemudian menunjukkan baju mungil berwarna biru muda kehadapan suaminya.

“Tara! Baju kelima sudah jadi!” ucap Ana girang. Ridho, suaminya hanya bisa membalas sambil tersenyum.

Istrinya terlihat ceria semenjak mengandung anak pertamanya, ia tak henti-hentinya menarik kedua ujung bibir.

“Udah yuk! Masuk,” ajak Ridho memapah Ana untuk berdiri, perutnya yang membesar mempengaruhi cara berjalannya yang agak susah. Ana sudah mengandung hampir sembilan bulan setelah 2 tahun pernikahannya dengan suami yang dikasihinya. Selama itulah mereka menantikan kehadiran buah hati. Dan kini mereka berjuang bersama sepenuh hati untuk yang ditunggu selama ini.

Embusan angin malam membelai. Entah berapa helai daun yang tengah berterbangan dipermainkan angin di luar sana.

Kemarau masih berlalu. Desiran debu yang terbawa sepoi-sepoi angin kian menyapu wajah ayu yang dimiliki Ana. Dia makin terlihat cantik dan memancarkan seri yang selaras dengan terik matahari.

“Kau makin cantik. Orang bilang, jika ibu hamil makin cantik, maka anaknya perempuan,” ucap suaminya dengan senyum manis seperti siluet senja.

“Mungkin saja. Begitupun keyakinanku. Aku ingin dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Bersekolah tinggi dan tentunya membanggakan baju rajutanku sebagai karya terbaik seorang ibu,” jelas Ana panjang. Kemudian melanjutkan merajut diatas dipan depan rumahnya. Suaminya meminum secangkir kopi manis panas yang suhunya telah berangsur menghangat bersinergi dengan hangatnya percakapan.

“Mas?” Panggil Ana menghentikan aktivitasnya.

“Hm?” jawab Ridho sembari menaruh cangkir kopinya.

“Sebentar lagi bulan Juli,” lirih Ana.

“Lalu?”

“Semoga kita tetap bersama,” ujar Ana sambil menatap kedua manik indah milik suaminya. Entah apa yang ia rasakan hingga mengatakan ini.

Hari-hari berlalu tanpa celah hingga jingga merenggut cerahnya mentari musim kemarau. Gelap mulai merenggut bersama titik-titik bintang di langit. Kemudian disusul krik-krik jangkrik berkerik seperti dongeng pembuai sebelum tidur.

Malam kian kelabu, meninabobokan jiwa-jiwa insan yang terkapar lelah.

“Ah! Allah Kariim, perutku,” batin Ana. Rasa sakit yang hebat membangunkannya dari tidur. “Ya Allah, bagaimana ini? mas Ridho masih terlelap.” Suara lirih Ana bergetar hingga ke gendang telinga suaminya.

“Ana? Masyaallah darah!” teriak Ridho melihat seprai yang kini berbau amis, ia terlonjak duduk. Dengan gemetar ia menelpon nomor ambulance.

Ia kemudian memeluk Ana yang menangis tersedu menahan sakit yang menyerang perutnya. Memang, kandungannya telah menginjak usia sembilan bulan. Mungkin ini waktunya.

Tak lama ambulance datang membawa Ana ke rumah sakit terdekat.

Di suatu hari yang tidak cerah, kenyataan begitu memukul telak di sebuah ruangan dengan serbuan aroma obat yang menyengat. Ana tergeletak tak berdaya dengan sekuat tenaga menahan kontraksi hebat yang menyerang tapi tak lekas muncul tanda-tanda kelahiran. Ana tak pernah menyerah hingga kondisinya benar-benar melemah dan mata terpejam, gelap.

“Kita harus melakukan operasi caesar!” ucap dokter perempuan yang mulai mencucurkan keringat sebagai suatu jerih tanggung jawabnya. Ia berdiri di ambang pintu.

“Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dok,” jawab suami Ana di hadapan dokter tersebut.

“Tapi pak, ada sebuah pilihan yang akan memberatkan pemikiran bapak, dan itu harus dijawab secepatnya. Tubuh istri anda lemah, darahnya turun, dan hanya ada dua pilihan untuk keadaan ini. Bapak harus memilih istri atau bayi yang masih di dalam rahim untuk diselamatkan terlebih dahulu,” jelas dokter perempuan itu dengan detak kata yang dipercepat. Waktu memilih tak banyak. Tapi mata dan hati suami Ana masih tertegun, memintai dan bahkan ingin menjawab dengan jawabannya sendiri ‘aku saja yang mati’. Hingga pikirannya pun memihak oleh suatu bisikan lembut terbawa angin “Pilih anak kita, Mas. Telah banyak alur yang kuuntai untuk kehidupannya. Baju yang akan dipakainya, sekolahnya dan masa depannya menatap dunia”. Sontak, suami Ana pun menjawab “Selamatkan anak saya”.

Operasi pun berjalan dengan debar-debar hati yang menantikan kedatangan dan merintih untuk melepaskan. Tidak akan ada lagi Ana, belahan hati yang segenap hati mencurahkan kehidupannya untuk keluarga. Hingga awang-awang pengapun terpecah mendengar suara tangis bayi yang hadir ke dunia. Malam itu, tepat pukul 00.00 WIB jatuh di bulan juli. Wajah bayi itu cantik dan bersinar. Tepat seperti bentuk reinkarnasi dari ibunya yang telah tiada. Ana, selamat tinggal. Biarlah alurmu hidup bersama dengan keindahan yang kunamai Juliana ini. Tentu saja kau akan setuju, sebab Juliana ini adalah pembuka suka dan duka yang datang sepaket di awal bulan Juli.

5 tahun kemudian…

Jemari gagah itu mengusap foto berbingkai biru.Terpampang jelas disana,wanita yang tengah berbadan dua dengan dress biru kesukaannya.Senyum nya merekah manis.Mata nya bulat memancarkan sinar kebahagiaan bagi siapa saja yang menatapnya.

Ridho tersenyum sedih,sudah 5 tahun berlalu ia hidup tanpa Ana.

Ridho bergumam pelan,Ana anakmu sekarang sudahlah menjadi anak yang sangat cantik sama seperti mu Ana, aku yakin kalo kamu ada di sampingku kamu akan senang melihat anak kita yang periang ini Ana.

Aku yakin Tuhan memiliki rencana dibalik semua ini, dari suka maupun duka yang kujalani ini pasti mempunyai hikmah dibaliknya dan aku akan selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Tuhan berikan kepadaku. Ana aku berjanji kelak aku akan menjadikan anak kita layaknya sebuah anugrah yang terpancarkan.

Cermin (cerita mini) Oleh

Paradigma imaji cabang 1 (Pi1)

Kelompok 6

Tema: Welcome Juli

Judul : “JULIANA”

Indonesia,06 Juli 2018

 

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".