Hujan dan Manusia
Awan kulumbus mulai menampakan wajahnya, awan hitam pekat tersebut perlahan datang. Tanpa di undang, dan tanpa diminta. Ia dengan senang hati akan menurunkan airnya. Awan yang sangat ingin dijauhi semua orang, tapi terkadang aku kasihan padanya.
Di sini pun mulai turun hujan, rintik-rintik air mulai membasahi jendela coffe shop milik temanku. Aku harus tetap disini, sebelum jam kerjaku habis. Melihat hujan dan melihat pengunjung. Aku menghela nafas melihat hujan sudah mulai turun. Perlahan tetes nya mulai turun, lalu menjadi deras. Sekarang musim hujan, dan aku harus selalu bersiap dan waspada akan turunnya hujan. Entah itu hanya sebatas gerimis, bahkan badai sekalipun.
Ku edarkan pandanganku kearah sekeliling, dan pandanganku terhenti pada sepasang kekasih yang sedang bercengkarama sembari tertawa bahagia. Tawa bahagia di tengah hujan yang mengguyur. Aku mengernyit melihat mereka. Mereka seolah tak menyadari hujan membasahi bumi.
Sekali lagi, ku edarkan pandanganku menuju sepasang kekasih lain, mereka sedang menghisap coffe latte yang ku buat. Mata mereka tertuju pada hujan, larut dalam kesendirian padahal mereka sedang bersama. Aku menggelengkan kepala melihatnya. Mereka menikmati hujan dan kopi hingga larut dalam kenangan dalam hatinya.
Dan Lagi-lagi, aku kembali mengedarkan pandanganku. Namun bukan kepada sepasang kekasih, tapi pada seorang lelaki yang berada di pojok ruangan. Ia sedang duduk melipat kakinya dan laptot di depan nya. Pandangannya menerawang keluar, menatap hujan dengan kedua matanya. Matanya tak bercahaya, seolah ada mendung menyelimutinya.
Aku mengikuti pandangan lelaki itu untuk melihat apa yang membuatnya merasa betah berlama-lama menyaksikan air yang turun dari langit. Tapi yang ku lihat hanyalah air hujan yang intensitasnya semakin deras sedang bercumbu dengan tanah. Aku bahkan tak bisa melihat keadaan di luar saking derasnya. Kata orang, hujan bisa membawa seseorang emosional.
“Hai Sa, sudah waktumu untuk pulang.”
Seseorang menyadarkanku, itu temanku, Naila. Aku melirik jam yang ada dipergelangan tanganku. Sebentar lagi malam, sudah saatnya aku pulang.
Tapi diluar hujan, aku benci hujan. Aku tak suka hujan menggerogoti kenanganku. Memaksaku untuk larut dalam suasananya.

27 juli 2018
Kolaborasi Cerpen Paradigma Imaji II
Tema: Hujan
Kelompok 2:
1. @⁨رنتي سسلوت🍃⁩
2. @⁨Sarah⁩
3. @⁨MDC-041 Isna R⁩
4. @⁨–Nahdla Imamul–⁩
5. @⁨D⁩
6. @⁨+62 838-1450-8102⁩
7. @⁨Bela Malihatunn⁩
8. @⁨Miftah⁩
Yang mengerjakan:
Sarah Aisyah

 

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

1 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".