Gerhana Diujung Bulan

Keindahan langit malam tak pernah bosan kupandang. Galaksi antar bintang membuatku betah berlama-lama menatap hamparan cahaya itu dari balik jendela kamarku. Di sana, aku menemukan sesuatu yang akan mengingatkan pada sosok malaikat tak bersayap bernama ibu. Hal yang paling kuingat adalah saat ibuku bilang, jika wajahku secantik bulan purnama.
Sayangnya, kini ibu sedang terbaring sakit karena suatu wabah, hampir semua penduduk pun mengalami penyakit yang sama. Badan panas, menggigil, dan timbul bentol-bentol di sekujur tubuh.

Namun anehnya, di desa ini hanya aku saja yang tidak terjangkit wabah. Aku tidak tahu mengapa.
Hingga ada Seorang tabib memintaku untuk mencari bunga sejuta obat berwarna merah pekat di dalam hutan. Sebenarnya aku sangat takut karna harus pergi sendiri mencari bunga tersebut.Tapi aku tak mau menyerah, demi kesembuhan mereka.

Dalam perjalanan menyusuri hutan yang gelap dan lembab. Aku merasa ada yang sedang mengikutiku. Aku melambatkan langkahku, perlahan mengambil sebuah batang kayu yang ada di hadapanku. Aku merasakan seolah angin merayap membisiki telingaku, aku pun lantas berbalik ke, tak ada siapapun. Saat aku kembali berbalik aku menemukan seseorang berpakaian serba hitam berdiri tepat di depanku.
“Astaga.” Teriak ku kaget. “Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba muncul?”
“Apa yang sedang kau cari di tengah hutan seperti ini?”
“Tuan, saya sedang mencari bunga sejuta obat? Apakah Tuan mengetahui nya? Bunga itu berwarna merah pekat, tersembunyi dalam gelap nya hutan rimba. Apakah Tuan tahu? Tolong saya Tuan?” Ucapku memohon.

Lelaki yang ku panggil Tuan itu terdiam, cukup lama. Ia terus menatap ku dengan tatapan tajam nya yang mematikan. Lalu tiba-tiba saja ia mengacungkan benda yang kumaksud.
“Kau mencari ini?”
Manikku membelalak, “Ba-bagaimana … Ah! Iya benar. Terima kasih sudah …” Aku berniat mengambil bunga itu namun dia menjauhkannya.
“Tidak semudah itu.” Dan ia malah menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya.

Aku melongo tak percaya, “Astaga! Tuan! Penduduk desa sedang sekarat! Mereka membutuhkan bunga itu. Aku mohon, berikan itu padaku.” Aku benar memohon padanya.
“Bagaimana aku tahu kalau kau tak sedang membodohiku? Bunga ini sangat langka.”
Aku menghela napas seraya terpejam sesaat, “Kalau tak percaya, Tuan bisa ikut denganku ke desa. Silahkan Tuan melihat sendiri bagaimana penderitaan penduduk.”
Ia termenung sesaat, lantas mengikutiku ke desa.


Aku bergegas kembali ke desa membawa bunga ajaib itu. Sesampai di desa,Langkahku sempat tertahan mendengar tangisan banyak orang,Tabib telah mati. Apagunanya bunga ajaib ini jika pembuat obatnya sudah tiada?Tangisku tumpah saat itu juga. Rasa putus asa menghampiriku. bagaimana nasib penduduk desa ini nantinya Tuhan.
Lalu pemuda yang mengikutiku ke desa tampak mendekati si tabib dan Aron berkata .

“Ambilkan mangkuk kecil.”
“Apa yang kau lakukan, Tuan?” tanyaku lemah.
“Jangan banyak nanya. Ambilkan saja. Dan … Jangan panggil aku dengan sebutan ‘tuan’. Namaku Aron.”
Aku pun bergegas mengambil sebuah mangkok dan memberikannya pada Aron. Aron dengan serius mengolah bunga tersebut. Sedikit rasa kagum menyelip di hatiku, kala dengan cekatan pemuda yang baru kukenal itu meramu bunga langka yang dibawanya.
Tak lama kemudian ramuan tersebut telah siap. Dan aron langsung memberikannya pada ibuku.

” Bu .. Minumlah ramuan ini. Semoga saja ramuan ini manjur.” Ujar Aron pelan pada ibuku.
Dan setalah beberapa saat Ibu meminum ramuan itu, tubuh ibu mengalami perubahan yang fantastis. Tubuhnya kini segar dan bentolnya juga menghilang. Dan semua penduduk desa pun meminum ramannya.

Aku berterima kasih kepada nya karena telah menyembuhkan kami.
Aku baru sadar bahwa garis wajahnya begitu sempurna,matanya begitu lembut,jauh dari kesan dingin dan beku seperti saat pertama bertemu. Oh,Tuhan kenapa dengan hatiku,apakah aku mulai jatuh cinta?


Kemarin mungkin aku salah karena sempat berpikir, Aron pemuda antah berantah yang mempunyai niat jahat. Namun setelah melihat ketulusannya mengobati penduduk desa, aku menyadari, bahwa dia adalah malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menjawab do’a-do’a kami selama ini. Ia bahkan rela tinggal di desa ini untuk merawat mereka.

Kini antara Aron dan warga desaku sangat dekat. Tapi aku merasa kadang merasa aneh.Kadang Aron seolah membuat jarak di antara kami. Di suatu waktu dia teramat dingin, bahkan asing. Kadang bertingkah seperti dia kekasihku.

Dan ia semakin tampak aneh saat jarikuberdarah tergores duri mawar.Kenapa dia tak berhenti menatap darah yang keluar dari jariku seolah ingin melahapku?
Aku tidak berani menanyakan langsung pada Aron. Diam-diam aku mengikutinya, dankecurigaanku benar,Aron ternyata menangkap seekor ayam, menggigit leher nyalalu mengisap darahnya sampai habis. Aron bukan manusia?Apakah ini semua nyata?
Tidak, tidak mungkin. Aku pasti salah melihatnya.

Dalam keadaan masih syok, beberapa warga membawaku ke sebuah tempat tersembunyi. Aku tidak begitu memperhatikan. Hanya saja, yang membuatku terkejut adalah di tempat itu berkumpul semua warga desa yang selamat. Dan aku diberitahu kalau mereka sedang melakukan sebuah rencana terhadap Aron.
“Sebenarnya kami sudah mengawasi Aron semenjak beberapa ternak kami menghilang misterius. Dan ternyata dugaan kami benar. Aron bukan manusia. Dia makhluk penghisap darah bernama vampir.” Salah satu warga menjelaskan.

“Dua hari lagi, gerhana bulan total akan terjadi. Dan menurut buku Kertagama, peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada alam. Namun pada vampir itu sendiri. Kekuatannyitu akan mncapai puncak, dan akan sulit dikendalikan. Jadi kami sepakat, sebelum hari itu tiba, kita sudah harus membunuhnya.”Lanjut pamanku.
“M—membunuh?” Bibirku gemetar mengucapkannya. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku bimbang. Aku harus apa saat seseorang merencanakan pembunuhan pada orang yang kucintai?
Lalu sebuah suara mengejutkan kami semua.

“Kalian tak perlu khawatir. Aku sudah mendengar pembicaraan kalian.Ketahuilah,jauh sebelum ke sini aku sudah berjuang tuk mengobati diriku sendiri. Aku ingin jadi manusia sempurna. Dan obat itu telah kutemukan.Nanti saat gerhana di akhir bulan, kalian boleh membunuhku. Tapi jika aku tidak berubah jadi vampir lagi, aku ingin Rena menikah denganku”,kata Aron dingin.

Hari ini di penghujung bulan,hari penentuan itu datang juga. Saat gerhana yang tinggal beberapa jam lagi, saat pertaruhan cinta akan terjadi. Aku sudah memakai gaun terindahku,aku siap menjadi nyonya Aron. Di depan mataku Aron pun memakai jas terbaiknya tapi dengan badan terikat. Sepasang pengantin yang entah dipersatukan atau terpisah oleh takdir. Hingga…gerhana itu datang juga..ketegangan berbaur kecemasan melanda kami. Detik-detik berjalan bagai teramat lambat. Hey Aron masih normal ia sudah sembuh. Semua warga bersorak,ya Tuhan akhirnya doaku terkabul. Aron telah menjadi manusia. Dan dia adalah pengantin priaku.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

2 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".