Debat Garuda

By Iksan Al Kahfi

Menjadi murid SD Negeri Apundi sungguh merupakan kebanggaan tersendiri. Sekolah tersebut diapit oleh dua jalan. Jalan Garuda dan jalan Elang. Dua nama burung. Salah satu nama burung itu mengingatkan kita pada sejarah kerajaan nusantara tempo dulu. Ketika Irham ditanya mengenai perbedaan kedua burung itu, ia menjawab sekenanya.

“Burung Garuda tubuhnya lebih besar, bisa ditunggangi. Sedangkan burung Elang tubuhnya kecil, suka makan anak ayam.”

Jawaban Irham itu menuai protes dari teman-temannya. Perdebatan sengit pun berlangsung heboh di bawah gerbang sekolah. Sudah menjadi kebiasaan sebelum lonceng sekolah berdering nyaring, anak-anak merah putih hati itu nongkrong di bawah gerbang sambil memamerkan gigi kuning dan tahi mata kering yang masih menempel di sudut mata.

Joe Garcia Lorca, Mansyur, Hasyim, dan Yosep berada di pihak Irham. Mereka lebih memilih membela Irham agar dapat leluasa menyontek saat ulangan. Adapun Edward, Iskandar, Hery, Yoel, dan beberapa pengikut setia lainnya berada di pihak penentang. Perdebatan mereka sering terjadi karena dipicu oleh perebutan rangking pertama setiap semester.

“Sejak kapan kamu naik burung Garuda, Ham?” tanya Edward seraya menendang-nendang pondasi gerbang. Ujung sepatunya agak lancip seperti ujung sekop. Kedua tangannya bersembunyi di balik saku celananya, kanan dan kiri.

Irham yang masih bertengger di rangking pertama kelas empat merasa terpojok di sudut gerbang. Dirinya bagai terjebak di antara kepala teman-temannya yang mirip batok kelapa tua. Maklumlah, model kepala anak SD jaman dulu seperti tempurung kelapa tua yang dicukur keliling, dan hanya menyisakan sedikit rambut di bagian depannya. Tidak boleh ada yang berambut gondrong. Terkesan preman. Texas. Jika ada murid yang berani memanjangkan rambut, maka guru yang akan mencukurnya. Hasilnya kepala seperti habis digigit tikus. Selain dapat marah, juga ditertawakan oleh murid-murid perempuan. Malu jadinya.

Otak Irham terus berputar. Seperti membuka lembaran-lembaran sejarah masa lampau. Mencari halaman yang menguraikan tentang burung Garuda. Ia tahu burung itu telah disahkan sebagai lambang negara. Bahkan ia telah hafal mati semua gambar yang tergantung di dada burung itu. Jumlah bulu sayap dan bulu ekor juga mengandung arti. Begitu pula kepala burung yang tetap berpaling ke sebelah kanan. Semua itu Irham tahu maknanya. Akan tetapi menemukan jawaban dari pertanyaan Edward, dirinya bagai petinju profesional yang langsung KO di detik ke lima ronde pertama.

Ada rasa menyesal telah memberikan jawaban yang berbuntut panjang. Burung Garuda bisa ditunggangi hanyalah cerita kolosal yang berbau dongeng dalam negeri. Jangankan naik burung Garuda, naik pesawat dan mobil pun terasa asing bagi anak kampung itu. Serasa basah sekujur tubuhnya disemprot dengan pertanyaan seperti itu. Kapan dirinya pernah naik burung Garuda?

“Kapan ya kita bisa naik burung Garuda?” timpal Iskandar seraya cengengesan memandang ke arah Edward dengan maksud mengolok Irham.

Muka Irham laksana garam meleleh di pagi yang sejuk itu. Sejenak ia memberanikan diri berpaling ke kanan dan ke kiri. Namun yang dilihatnya adalah gambaran wajah-wajah pendukung setianya telah membelot. Ada lukisan benci yang tergurat pada kening teman-temannya. Seolah berkata, “Jangan minta jawaban dariku!”

Sungguh tega teman-teman Irham. Memilih bungkam seribu bahasa. Membiarkan dirinya terpojok gara-gara burung Garuda. Padahal Irham tidak pernah memperlakukan teman-temannya seperti itu. Hobi nyontek tak pernah Irham tolak. Tak pernah pula memberikan jawaban salah terutama jawaban soal-soal matematika. Oh nasib! Di mana kau betada wahai burung Garuda? Lemas. Lesu. Malu.

Joe Garcia Lorca mendekat. Satu-satunya murid keturunan bule yang dilindungi pihak sekolah. Tapi bukan seperti satwa langka yang harus dilindungi. Setelah resmi sebagai murid SDN Apundi dan dinobatkan sebagai anggota gang dalam permainan ‘Ball Boy’, maka tidak ada lagi yang berani menggunting rambutnya. Sehelai rambutnya lebih berharga daripada dua bungkus wafer coklat. Ia rela mengorbankan wafer itu demi keselamatan rambutnya. Ia memang keturunan berambut gondrong. Mengikuti rambut papinya yang panjangnya sebahu dan berwarna pirang. Hidungnya mancung dengan lobang hidung yang tetap menghadap ke bawah. Kulitnya putih pucat. Pengaruh buah ‘Dengen’ yang selalu dimakannya. Cara berpakaiannya rapi dan bersih. Memakai dasi pula. Sangat berbeda dengan murid-murid lainnya dimana dasinya dijadikan lap ingus, lalu dihanyutkan ke sungai ‘Balaba’.

“Saya pernah lihat orang duduk di atas burung,” bisik Joe Garcia Lorca sembari merapatkan mulutnya ke siput telinga Irham. “Tapi bukan burung Garuda . Burung Rajawali namanya, mirip burung Garuda,” imbuhnya masih berbisik.

Bagai tersapu angin sepoi-sepoi yang berhembus dari ‘Danau Towuti’, wajah Irham seketika tampak cerah. Rambutnya yang sempat lemas tiba-tiba berdiri tegang. Sekiranya ada seekor cecak yang jatuh di atasnya pasti meregang nyawa tertusuk ujung-ujung rambutnya yang setajam duri salak.

“Lihat di mana, Ju?” cecar Irham dengan mata melotot, membuat batuk Joe Garcia Lorca kumat seketika. Ia lupa kalau anak bule itu belum sembuh total dari gejala asma. Gara-gara rambutnya sempat digunting oleh Pak Daniel, wali kelas empat. Waktu itu Pak Daniel belum tahu kalau rambut bule tengik itu dilindungi semenjak masih berada dalam rahim ibunya.

“Di majalah Bobo,” tukas Joe Garcia Lorca penuh semangat diiringi suara air mendidih dalam lehernya.

Harapan Irham surut. Laksana mentari yang buram. Ludahnya terasa kecut. Ia mengira burung yang dimaksud Joe Garcia Lorca terlihat terbang bebas di atas wilayah udara Wawondula. Rupanya hanya gambar di majalah Bobo. Majalah kesukaan bule asma itu.

“Apa hubungannya, Ju?” tanya Irham seraya mengembuskan nafas TKO.

“Setidaknya kita ada bukti kalau burung Garuda bisa dinaiki,” balas Joe Garcia Lorca sembari menahan batuk

“Ini bukan simsalabin abrakadabra, Ju. Ini burung, Ju. Burung Garuda yang setiap hari senin kita baca sila-sila yang tergantung di lehernya. Paham, Ju!”

Joe Garcia Lorca bungkam seribu bahasa. Ujung rambutnya yang pirang berhenti bergerak. Batuknya tidak jadi meledak. Hanya suara seperti air mendidih dalam lehernya yang terdengar jelas atau seperti suara radio nasional yang kehilangan siaran.

Giliran Mansyur yang mendekat. Menyusul Hasyim dan Yosep yang melompat karena takut diserang mendadak oleh Iskandar dan pasukannya.

Edward tertawa cengengesan. Memamerkan gigi depannya yang agak miring posisinya. Sepasang kakinya yang panjang berdiri tegak laksana tiang listrik berkarat yang terhunjam ke dalam bumi.

“Ada jalan Garuda, ada jalan Elang. Itu pertanda kedua burung itu pernah ada di sini,” ujar Mansyur mencairkan suasana. Pipinya yang luas membuatnya nekat berkicau. Rambutnya yang lurus kaku rebah ke samping bagai habis digilas angin tornado menjadi ciri khasnya. Bibirnya yang sedikit tebal semakin memperindah rona wajahnya. Bibir itu semakin menebal saat menikmati es potong setiap jam istirahat. Bagi murid SD Apundi jam istirahat dinamakan keluar main di luar kelas. Bahkan ada yang bermain sampai ke sungai Balaba sambil mencari buah Dengen.

Mansyur memang doyan makan es potong bersama Irham. Padahal es yang dikulum dengan bibirnya kadang tercemari kuman dan najis yang menempel di telapak tangan penjualnya. Pasalnya, penjual es potong tersebut, selain kencing berdiri, juga tak pernah mencuci alat kelaminnya yang tidak jauh beda bentuknya dengan es potong yang dijualnya. Irham dan Mansyur tidak mau ambil pusing. Rasa es potong baginya seperti mengecup pipi murid tercantik di sekolahnya. Tak peduli pipi itu seharum bedak baby campur aroma cendol yang sering muncul dari dalam lubang hidungnya.

Pendapat Mansyur berlalu begitu saja tanpa tanggapan satu kata pun. Merasa terjepit seperti itu membuat Irham ingin raib seketika. Sungguh memalukan sekaligus memilukan. Tidak mungkin menyalahkan kedua burung itu. Atau menyesali orang yang memasang plank di kedua ujung jalan dengan tulisan nama kedua burung tersebut. Ia harus menyalahkan dirinya sendiri, karena telah membuka diskusi bebas tanpa narasumber yang terpercaya. Juga memancing jentik-jentik permasalahan yang rumit berupa tema dan makalah yang sangat kontradiksi dengan keadaan.

Sekiranya ia ditanya kapan ia menunggangi Kerbau, sudah pasti pertanyaan itu langsung dilahapnya seperti melahap soal-soal matematika sebanyak enam puluh nomor dalam jangka waktu hanya dua puluh menit. Duduk di atas punggung Kerbau sambil mengerjakan PR di atasnya merupakan salah satu penyebab Irham selalu menyabet rangking satu. Mendapat hadiah berupa buku tulis sebanyak setengah lusin. Tampil di depan semua murid dari kelas satu sampai kelas enam. Disorot dengan pandangan mata sayu berselubung cinta oleh murid-murid perempuan yang simpati padanya. Dihibur dengan tepuk tangan yang meriah saat berjabatan tangan dengan kepala sekolah. Paling spesial diberi uang seratus rupiah oleh tiga orang bunga Apundi; Mery, Nensi, dan Fitri. Dengan uang itu ia puas makan empat buah Jalangkotek bersama Mansyur.

Namun kali ini Irham mati kutu. Bahkan istilah kutu busuk yang tersemat pada dirinya terancam copot. Telunjuknya mulai menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal. Barangkali ada kutu kerbau yang hijrah ke rambutnya. Atau kutu ayam dan kutu itik yang berpindah tempat laksana orang kota yang ikut transmigrasi dengan alasan pemerataan penduduk.

Irham pernah merasa kasihan melihat ayam banyak kutunya. Ia langsung menyembelih ayam itu kemudian menyiramnya dengan air mendidih. Mencabut bulu-bulunya sampai gundul total. Semua kutu ayam itu mati seketika. Irham sangat gembira dan lupa kalau ayam itu juga telah mati. Padahal ayam itu milik orang lain yang dititipkan kepada bapaknya. Ayam Philipin. Esoknya, Irham harus merasakan penyesalan berat. Gara-gara ayam itu dirinya jadi bulan-bulanan, kena damprat orang satu rumah. Goblok, bodoh, dungu, tolol, kurang kerjaan, sinting, miring, dan semua cacimaki lainnya menyerang dirinya. Demi keselamatannya, Irham memilih menghilang dari rumah dan alpa beberapa hari di sekolah.

Tidak ada jalan lain. Pikiran Irham buntu total. Sudah waktunya harus mengaku salah dan kalah. Sportif walaupun harus menanggung malu. Benaknya mulai memilah-milah. Bolos dari sekolah atau rela diolok-olok dalam kelas. Menyusuri jalan Garuda atau jalan Elang yang sama-sama berakhir di sungai Wawomeusa. Kemudian terjun ke dalam sungai itu untuk mengakhiri prestasinya sebagai Sang Juara. Sekaligus mengakhiri hidupnya yang saban hari hanya bercengkerama dengan Kerbau tak tahu diri itu. Atau memilih mogok bicara dengan lawan-lawan debatnya. Irham mencapai puncak kelesuan berpikir. Positive thinking hilang dari tengkorak kepalanya.

“Saya pernah dibonceng Nenek naik burung Garuda!”

Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Suara seorang murid perempuan yang tidak disadari keberadaannya sejak awal perdebatan. Bersamanya juga dua orang murid perempuan yang tidak asing lagi di mata Irham. Kehadiran ketiga murid perempuan itu laksana burung Merpati betina yang menukik dan mendarat di tengah-tengah seminar.
☆ ☆ ☆
(Bersambung)

Ket:
~ SD Negeri Apundi berada di kecamatan Towuti , Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
~ Buah Dengen; buah khas Luwu Timur
~ Sungai Balaba
~ Danau Towuti
~ Wawondula; nama desa di kec. Towuti
~ Wawomeusa; nama tempat/daerah di desa Wawondula.
~ Jalangkotek; Pastel

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".