• Ilmu Perempuan

Genre: Romance

By Iksan Al Kahfi

Sinar mentari pagi semakin menyeruak. Menerpa wajah-wajah ingusan yang berkumpul di bawah gerbang sekolah. Semakin banyak murid yang bergabung dalam debat Garuda saat itu. Seperti undangan yang berdatangan dari berbagai penjuru. Semakin ramai pula terdengar suara perlombaan menghirup ingus yang sering muncul dari dalam hidung. Waktu itu musim pilek dan flu mewabah hampir ke seluruh murid SD Negeri Apundi. Namun tak membuat mereka malas datang ke sekolah.

Mereka murid-murid tauladan yang tak pernah surut semangat menuntut ilmu di sekolah, walaupun sering ditagih uang SPP dan uang BP3. Bagi mereka uang sekolah itu demi kebaikan mereka sendiri. Kecuali murid yang keras kepala. Membohongi orangtua, guru, dan diri sendiri. Diberi uang sekolah, malah dipakai jajan dan beli kelereng. Akibatnya nilai dalam buku raportnya terbakar semua. Begitu dinyatakan tidak naik kelas, maka buku raport itu betul-betul dibakarnya. Selamat tinggal sekolah. Tamatlah pendidikannya.

Satu persatu murid SD Negeri Apundi yang baru tiba di sekolah bergabung dalam debat Garuda pagi itu. Laiknya pertunjukan opera anak-anak yang pentas tanpa panggung. Suara Mery dan Fitri semakin melengking. Berbalas-balasan bicara dengan lawan debat Irham. Sementara Irham sendiri berganti peran sebagai penonton setia. Sesekali menyumbat mulut menahan tawa melihat kesungguhan teman-temannya dalam membela dirinya. Entah sudah berapa liter air liur yang tersembur dari mulut pendukung setianya. Memperjuangkan fakta dan mempertahankan kenyataan bahwa Garuda memang luar biasa.

Kepala Irham semakin membesar. Lehernya naik sejengkal. Telapak kakinya terasa ringan. Dirinya dilanda istilah ‘naik daun’. Kebetulan saat itu ia menginjak daun pisang pembungkus tahi minyak kelapa. Ia memang suka makan tahi minyak kelapa yang telah diperas minyaknya. Sebelum perdebatan dimulai, tahi minyak itu telah ludes dilahapnya berdua dengan Joe Garcia Lorca. Rasanya manis karena dicampur gula pasir. Itu pulalah penyebabnya leher anak bule itu mendidih karena kebanyakan sarapan tahi minyak.

Irham semakin puas. Rata-rata pendukung dan pembelanya adalah kaum hawa. Selain ketiga Merpatibetina itu, juga ada Suharni, Fatmawati, Ernawati, Suriani, Nurhaeni, dan beberapa murid perempuan lainnya yang namanya berakhiran ‘ti’ dan ‘ni’. Mereka ibarat bendera umbul-umbul yang berbaris di belakang Fitri dan Mery.

Tak ketinggalan juga Kasmawati yang langsung tampil dengan sepasang pipi tebal mirip dua roti kukus yang belum matang. Kehadirannya memperburuk nasib Edward dan Iskandar. Rambutnya dibiarkan terurai menyerupai cambuk maut. Tersisir rapi tanpa bando dan karet gelang. Suara khasnya seperti suara saksofon berpadu dengan suara gesekan parut kelapa membahana di tengah-tengah perdebatan. Telunjuknya bagai tongkat Hanoman berkali-kali menghunjam ke arah lawan. Juga bibirnya sengaja dijulurkan sebagai bentuk perlawanan dan pemberdayaan kaum perempuan.

“Kalian tidak punya malu. Tidak pernah lihat burung Garuda. Beraninya hanya kepada perempuan. Suka main keroyok. Cepat angkat kaki dari sini! Kalo tidak, kalian akan berubah jadi kera yang hina. Usir dia…!” teriak Kasmawati seraya menjulurkan telunjuknya ke pintu gerbang.

Semua murid yang berkerumun mengangkat kepalan tinju sambil berujar, “Usir…usir…usir!” Edward dan Iskandar mati langkah, mati kata, mati nyali, sekaligus mati rasa.

Tak dinyana, Irham telah berhasil membangkitkan semangat murid-murid perempuan melalui sistem emansipasi. Strateginya membuahkan hasil yang gemilang. Tidak sia-sia ia menuntut ilmu perempuan pada Nenek Pere. Seorang nenek yang telah berkarat hidupnya, tetapi masih sering mendapat ciuman hangat dan mesra dari suaminya, Kakek Pere tentunya. Dari lisan nenek itu Irham menerima nasehat-nasehat mujarab tentang cara menaklukkan perempuan. Dan dari tangan nenek itu Irham menerima warisan berharga berupa buku KARTINI, SEBUAH BIOGRAFI. Buku yang menginspirasi semua orang, semua bangsa, bahkan dunia untuk menghargai kaum perempuan. Belakangan Irham baru tahu penulis buku itu adalah Sitisoemandari Soeroto.

Ilmu Nenek Pere betul-betul ampuh. Suatu hari Irham mencuridengar dari kakak perempuannya yang bernama Ira. Kakaknya itu merupakan kembang desa yang memiliki kulit secantik Ratu Pantai Selatan. Wajahnya mirip Ria Irawan, artis cantik yang tenar saat itu. Dari mulut kakaknya itu Irham mendengar bahwa Nenek Pere memiliki ilmu kanuragan yang mampu menaklukkan hati perempuan. Siapa saja laki-laki, yang penting tidak mati burung, yang berguru pada nenek berkarat itu pasti dapat menguasai perempuan, baik hatinya, cintanya, maupun tubuhnya.

Irham mendengar Nenek Pere sudah sekarat, mau meninggal dunia. Sementara Kakek Pere pergi menjerat ayam hutan di kaki gunung Wawomeusa. Terkadang berhari-hari baru kembali ke rumah. Cucunya yang bernama Anca bercerita kalau neneknya sudah mau meninggal. Katanya ia mencium bau busuk tanda-tanda orang mau meninggal dari dalam kamar nenek itu.

Irham pun bergegas ke rumah Nenek Pere. Harus tiba duluan sebelum orang lain berdatangan melayat mayatnya. Beruntung nenek itu masih kuat berkata-kata. Memang ada bau busuk tiada tara dan tiada henti dalam kamar. Setelah diteliti dengan seksama ternyata Nenek Pere tak henti-hentinya kentut tanpa suara. Kentut diam-diam. Tak apalah, demi ilmu yang dapat mencerahkan masa depannya.

Irham duduk bersila di depan ranjang sambil menaruh ujung baju di wajahnya. Bau kentut Nenek Pere sedikit lebih bersahabat. Di bawah ranjang Irham menemukan kulit biji nangka berserakan. Rupanya guru spiritual itu kebanyakan makan biji nangka rebus sehingga tak mampu mencegah angin jahat yang mengalir lembut tanpa suara dari dalam perutnya. Dengan sopan dan merendah diri, Irham mulai bermohon menirukan sikap prajurit Majapahit yang bersimpuh di hadapan raja.

“Mohon ampun, Nek! Saya datang tanpa diundang. Nenek pasti masih ingat jasa-jasa saya pada Nenek. Semua perintah Nenek sudah saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Memberi makan ayam. Menyapu halaman rumah. Memanjat pohon nangka. Mencuci tahi ayam di lantai. Menimbah air di sumur. Mencari kayu bakar di belakang rumah tetangga. Mengejar sandal Nenek yang hanyut di sungai sewaktu Nenek mandi. Menggosok belakang Nenek pake batu sehingga daki Nenek terkelupas semua. Bahkan saya berhasil membasmi kutu Nenek yang sangat bandel itu. Saya tumpahkan minyak tanah di rambut Nenek. Satu lagi, Nek… saya pernah mengambil uang Mama untuk belikan Nenek obat cacingan. Saya kemari untuk meminta janji Nenek. Janji akan memberi saya ilmu perempuan. Mohon Nenek beri sekarang. Ampun, Nek… perkenankanlah permohonan cucumu yang rajin dan baik hati ini!”

Alhasil, permohonan Irham yang lebih menyerupai tagihan itu diijabah oleh Nenek Pere. Dengan sisa-sisa tenaganya dan suara yang timbul tenggelam, Nenek pere pun terduduk dan menutup wajah Irham. Seolah membacakan mantera-mantera yang ia hafal sejak ditemukannya fosil manusia purba yang bernama Pithe Cantrophus Erectus mathius the cackus bin thichus rachus. Nenek Pere sungguh sayang pada Irham. Ia tidak mau meninggal dalam keadaan berutangbudi dan ingkar janji pada cucu itu. Kecuali utang sabun mandi dan permen karet dibebankan kepada Irham. Tak tega rasanya menolak permintaan cucu ganteng itu.

“Simak baik-baik, Cu!” kata Nenek Pere mulai mentransfer ilmunya. Bibirnya telah layu seperti kulit langsat yang kering. Sorotan matanya terlalu sendu untuk ditatap. Telapak tangannya yang sekasar ampas nikel mulai mendarat di atas kepala Irham.

“Baik, Nek… saya dengar, Nek!” jawab Irham tertunduk mulai mengosongkan ruang dalam tubuhnya agar bisa menampung ilmu perempuan yang ditransfer sang nenek. Ia sangat khusuk.

“Perempuan itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Bukan berarti perempuan suka yang bengkok. Justeru kalau barangmu bengkok, kau tidak akan laku. Pada saat kau bersama perempuan, usahakan hatimu jangan bengkok. Tulang rusuk bengkok sebagai isyarat perempuan harus dimanja, bukan dipaksa dan disiksa. Perempuan butuh dijadikan bunda, bukan dijadikan janda. Kecuali dia khianat, maka kau boleh mendua. Dan perempuan itu kembang, bukan kumbang, terlebih lagi bukan kambing. Kau bisa menguasai semua perempuan dari hatinya, jangan dari wajahnya. Kalau kau mencintainya, maka bicaralah dari hatimu ke dalam hatinya. Harus kau ingat, semua perempuan sangat senang dibilang cantik. Maka berkatalah kepadanya, “kau sungguh cantik,” di hadapannya tanpa ada orang lain yang mendengar. Niscaya dia akan mengingatmu sepanjang masa.

“Yang paling mujarab saat kau memandang matanya, katakanah dalam hati, “aku adalah rajamu dan kau adalah ratuku.” Niscaya dia akan tersihir. Akan mengikutimu. Akan mendukungmu dan membelamu. Akan berkorban untukmu. Bahkan akan mencintaimu seperti bunga mencintai keharumannya. Mencintaimu seperti air hujan mencintai tetesan airnya. Mencintaimu seperti bulan mencintai langit malamnya. Mencintaimu seperti matahari mencintai langit siangnya.

“Ingat ini baik-baik! Tiga hal yang disukai perempuan pada diri laki-laki; pandai, jujur, dan humoris. Tiga hal yang tidak ditolak perempuan; salam cinta, bunga, dan uang. Tiga hal yang membuat perempuan tersihir; senyum ikhlas, surat cinta, dan sentuhan bibir. Jadi kau harus belajar menulis surat cinta dengan kata-kata Pujangga Melayu, jangan dengan kata-kata Pujangga Mesir kuno. Sebab di tangan Pujangga Melayu, bulan pun bisa tertawa. Sedangkan di tangan Pujangga Mesir kuno, bulan merana sepanjang malam. Terakhir, tiga hal yang membuat perempuan benci pada laki-laki; ingkar janji, membagi cinta, dan tidak jantan. Jadi pastikan bahwa kau laki-laki pejantan tangguh. Karena perasaan cinta akan terdeteksi pada kejantanan yang kau miliki. Bukan besarnya cinta, melainkan kuatnya kau bermain cinta, tahan lama, dan tahan banting.

“Satu pesanku, jangan kau sebarkan ilmu ini. Ke mana pun kau pergi mencari ilmu seperti ini, yakin kau tidak akan menemukannya. Akan tetapi ke mana pun kau pergi membawa ilmu ini, yakin kau akan disenangi, dicintai, disayangi, dan dikejar-kejar perempuan. Kecuali kau dikejar polwan, maka ilmu ini tak akan berguna. Sebisanya hindarilah polwan, kalau tidak, dia akan menyeret dirimu sampai ke mejahijau. Camkan ini, Cu!”

Seperti itulah ilmu perempuan yang dimiliki Irham. Terbukti dalam debat Garuda pagi itu, hampir seratus persen murid perempuan membela dirinya. Sampai-sampai ia terharu menyaksikan bagaimana dua Merpatibetina begitu gigih bersuara lantang membalas setiap kata-kata yang dilontarkan lawan-lawan debatnya.

Airmata Irham hampir saja bergulir saat ia melihat tangan Mery menampik tonjokan Iskandar. Bahkan matanya telah berkaca-kaca saat melihat bisul di atas siku Fitri meletus akibat cengkeraman tangan Iskandar. Hatinya betul-betul menangis. Tak tega melihat perempuan diperlakukan sekasar itu. Jika sekiranya Nenek Pere masih hidup dan menyaksikan kaum perempuan dikasari seperti itu tapi tidak bertindak, maka sudah pasti sang nenek akan kecewa berat. Kecewa karena Irham hanya berpangkutangan. Guru spiritual itu pasti akan berteriak, “kau bukan pejantan tangguh, potong saja burungmu!”

Irham tersadar. Ia langsung melompat ke tengah antara Mery dan Fitri. Secepat kilat ia menangkap tangan Iskandar yang masih mencengkeram lengan Fitri. Darah dan nanah bisul Fitri muncrat ke wajah Irham. Namun tak membuat murid Nenek Pere itu kehilangan ilmu. Justeru hal itu menjadi bukti kejantanannya dalam membela kaum perempun. Padahal sumber masalah berasal darinya. Tepuk tangan dan sorak-sorai dari semua murid yang menonton kejadian itu semakin riuh terdengar. Hingga akhirnya Pak Daniel, wali kelas IV turuntangan dan langsung ke TKP.

“Pagi-pagi sudah ribut kayak anak ayam kelaparan,” ujar Pak Daniel sedikit membentak. Wajahnya tak gampang dilupakan. Gerakan kumisnya yang tebal ketika menceramahi pasukan debat Garuda menambah wibawanya pagi itu.

Semua murid yang berkumpul di bawah gerbang sekolah langsung terdiam. Tak berani berkicau. Takut mengambil resiko. Bukan kumis Pak Daniel yang ditakutkan. Bukan pula cincin besi putih bertuah yang melingkar di jarinya yang dikhawatirkan akan menvonis siapa yang bersalah. Melainkan tulang punggung jari tengah wali kelas IV itu yang dijaga-jaga. Kalau itu yang mendarat di jidad murid-muridnya, akan muncul daging menumpang sebagai hadiah untuk orangtua di rumah. Rasanya paling nyeri ketika tulang punggung jari itu tepat sasaran dan mengeluarkan bunyi keras. Sampai-sampai cecak yang sedang bermesraan di atas plafon kelas berhamburan karena takut disangka tokek yang datang menyergap.

“Masalah ini harus diselesaikan nanti dalam kelas. Edward, Iskandar, kalian harus bertanggungjawab. Kau Irham, menghadap di kantor nanti. Mengerti!

Beruntung pelajaran pertama di kelas IV adalah matematika. Bu Martha yang mengisi mata pelajaran itu. Sedangkan Pak Daniel adalah guru PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Irham duduk di bangku depan dengan hati yang tidak menentu. Menanti-nanti Pak Daniel akan masuk menyelesaikan masalah debat Garuda. Sementara yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Takut dengan ketokan tulang jari Pak Daniel.

Hati Irham juga tidak tenang memikirkan keadaan Fitri dan Mery yang menjadi korban utama perdebatan itu. Nensi pun tampak menggigil. Sekali lagi Irham menyesali kebodohannya. Naik burung Garuda menjadi masalah panjang hari itu. Sesekali ia melirik ke bangku ketiga merpatibetina itu dengan hati masygul. Adakah bunga-bunga Apundi itu akan membenci dirinya?

Lonceng keluar main berbunyi nyaring. Perasaan Irham semakin galau. Detak jantungnya berdegub kencang. Giliran Pak Daniel semakin dekat. Irham melangkah perlahan ke bangku Fitri, Mery, dan Nensi. Meskipun disambut dengan senyum gigi keropos, tetapi perasaannya tetap tidak tenang.

“Irham… dipanggil Pak Kepala Sekolah!”

Tiba-tiba suara dari pintu kelas menggetarkan jiwa Irham. Suara seorang murid kelas VI yang berkepala botak. Penampilannya menambah lutut Irham seperti mau tercopot. Habislah riwayatnya hari ini. Debat Garuda telah berada di tangan kepala sekolah. Siapa yang tak mengenal Kepala Sekolah?

Irham melangkah lesu keluar dari ruang kelas IV. Bersamaan dengan itu pula Joe Garcia Lorca bersembunyi di bawah bangku. Takut namanya akan disebut juga. Tiga pasang mata merpatibetina melepas kepergian Irham. Entah kepergiannya untuk menerima ketok tulang jari. Atau menerima mistar panjang sebagai hukuman yang harus dirasakannya. Entahlah.

~oo0oo~
(Bersambung)

Ket:
~ Buku KARTINI, SEBUAH BIOGRAFI ditulis oleh Sitisoemandari Soeroto; cetakan ke-4 tahun 1983

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".