DI BALIK TABIR REMBULAN
Riuh suara jiwa menyambut sang dewi. Segalanya telah dipersiapkan untuk menyaksikan kerlip cahaya di ujung nirwana. Lengkung indahnya melarikkan tawa di wajahmu. Tidak, kini segalanya telah berubah. Tawa dan suka yang dulu hadir kini telah berganti. Padamu yang dulu hadir menarikku untuk jatuh hati pada sang dewi. Kebencian pada sang bulan menjadi kecintaan yang luar biasa karenamu. Dan kini, benci itu kembali karena ulahmu.

Esok yang tetap indah dan terlihat cerah. Andi, kekasihku, memberi kabar kedatangannya malam nanti. Seketika lengkung sabitku tercipta. Tak sabar untuk menggulir waktu, demi bisa kembali bertemu dan melebur rindu. Senja sudah berlalu. Waktu yang ditunggu pun hadir bertamu. Nyatanya tak sesuai harapan, lelaki yang kucinta ternyata mendua.

“Sayang, aku mau ngomong sama kamu, tapi sebelumnya aku minta maaf.” Ucapnya.
“Iya Sayang, mau ngomong apa?” Balasku manja.
“Hmm… mungkin ini terlalu berat. Aku minta maaf padamu.” Ucapnya yang semakin membuatku penasaran.
“Mau ngomong apa sih, Yang?” Jawabku gemas. Kemudian Andi melanjutkan ucapannya,

“Aku dijodohkan sama orang tuaku. Andi menunduk dan mengusap jemariku. Sontak derap jantung kian melaju.
“Kenapa? Kenapa begitu? Bukankah kamu bisa menolak?
“Aku nggak bisa, aku betul-betul nggak bisa nolak. Itu kemauan orang tuaku. Maaf.”
Andi semakin tertunduk dalam.

Bulir bening itu jatuh, melekat bersama debu yang jemu meramu. Malam ini menjadi milikku dan kekasihku, sekaligus malam terakhir. Kuudekap erat hati Andi yang teramat baik bagiku.
Andi adalah cinta pertamaku. Sosok yang mendadak menjadi pujangga, mengatakan kalau cinta pertama itu sangat spesial karena pertama kalinya kita diajari cinta olehnya. Ya, seperti itulah pentingnya Andi untukku. Aku sesekali berdecak kesal. Itu semua karena kegalauan menenggelamkanku, mengalahkan banjir di Jakarta kemarin. Belum lagi kondisiku yang setengah basah karena terciprat genangan air. Jadilah aku duduk di halte bus, sambil mengira berapa jentik-jentik nyamuk pada setiap genangan.

Takdir sudah digariskan. Ketika aku sendirian di sini, ada lelaki bernama Safir. Sebuah suara menegurku dari dunia lamunanku. Kulirik seorang pria di sampingku, berpenampilan preman dengan tindik dan bertato noraknya. Kupikir ia akan melecehkanku, yang malah sebaliknya. Dia sangat baik. Jumpa kami hanya diselingi dengan dirinya yang bergombal ria ala kadarnya. Singkatnya kami jadi saling mengenal satu sama lain. Tidak ada jarak di antara kami, yang dekat semakin mendekat.

Aku dengan Safir sudah dianggap sangat dekat. Kerap kali kami jalan bersama, apalagi jarak rumah kami yang hanya dipisahkan oleh dua blok. Kami sering main di taman, kerapnya pada malam menjelang. Kami duduk bersama dibawah pohon besar di tengah taman. Menghabiskan malam untuk memandang bulan. Dia bilang aku layaknya bulan, yang dikelilingi ribuan bintang. Dan sang bintang itu adalah kaum adam. Aku jadi sorotan bagi bintang, sekaligus menjadi perebutan bagi mereka. Bukankah itu berlebihan? Berbagai lelucon yang selalu mampu melerai tawaku.

Waktu menjalankan tugasnya dengan baik. Masih di taman kompleks yang sama, sore itu aku dan Safir tetap saling canda, memberi rasa bahagia dengan kesahajaan yang kami punya. Safir, sosok baru yang berhasil membuat rasaku terendam malu, aku selalu tersipu. Safir memang sederhana, tapi berhasil membuatku bahagia dengan cara yang dia punya. Tak sedikitpun aku menyangka, aku sungguh nyaman dibuatnya. Tak ada kata lain dihidupku saat ini selain bahagia’. Tanpa kuduga, kulupa dengan kisah yang pernah kurajut bersama Andi, mantan kekasih yang sama sekali tak ingin kuingat. Lenyap oleh kehadiran sosok yang istimewa, yang mungkin akan kubiarkan menetap. Aku tak rela bila harus kehilangan lagi. Banyak kenangan yang sudah kutorehkan bersama Safir. Saat jatuh saling menguatkan, saat sedih coba ciptakan senyuman, dan saat bahagia saling menjaga rasa. Aku teramat sayang padanya. Safir, kuharap kau selalu menjadi milikku. Harapku di sore itu.

Hari terus berlalu, hari berganti minggu, hingga minggu berbilang bulan. Rasa dalam hatiku kian membuncah, bunga rasaku terus bersemi dan merekah. Terlalu banyak kisah yang terlewati, hingga enggan walau sekejap ‘tuk meninggalkan dan pergi.’ Taman komplek menjadi saksi kisah kami.
“Safir, kamu teramat berarti, aku mohon kamu jangan pergi, hingga nanti, temani aku di sisi,” sedikit ucapku padanya.
“Iya Rani, aku akan selalu di sini, bersamamu mewarnai hari,” jawabnya meyakinkan. Malam itu, terasa berbeda, lebih dingin. Dan tersiar kabar bahwa nanti ada gerhana bulan, pukul 19.00-21.00.
Ah bulan, lagi-lagi bulan, aku benci terhadapmu. batinku. Gerhana mulai menyapa. Safir pamit membeli camilan sebagai teman kebersamaan kami. Namun, itu menjadi saat terakhirku melihat lengkung manisnya. Safir mengalami tabrak lari dan itu terjadi di depan mataku. Safir terhempas cukup jauh dengan darah yang terus mengucur dari kepala. Naasnya, Safir tak bisa tertolong. Tepat gerhana bulan, hadirnya malam itu kembali menabur pahitnya kehilangan. Saat rasaku tumbuh dan merekah, kau datang merongrong bersama getir. Sudah puaskah kaurenggut semua ini, Bulan? Ya, gerhana bulan menyapu kebahagiaan. Aku lelah.

Sudahlah Rani, ayo pulang nanti kamu kedinginan. Bisikan pelan Amel seakan menarikku kembali ke alam nyata. Aku bergeming masih ingin memutar kenangan itu. Disaat-saat seperti ini Amel sahabatku, selalu berusaha menyadarkan bahwa kematian bukanlah suatu alasan untuk kita berhenti berharap, dan mengakhiri hidup.

Simpan dia dalam hatimu yang paling dalam. Sisakan tempat untuknya tapi bukalah jua hatimu untuk orang lain. Pasti ada hikmah dari peristiwa ini. Amel berkata sembari meraihku dan aku sesenggukan dalam pelukannya.
Udah, lupakan semua rasa sakitmu. Semua takdir yang tertulis itu adalah kehendak Sang Pencipta. Tidak ada yang perlu disalahkan, jadikan semua kenangan itu sebagai penguat dirimu. Ingat, Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu artinya Tuhan percaya jika kamu kuat.
Iya, semua ucapan Amel benar. Sudah saatnya aku keluar dari masa kelam itu. Ku harus mulai mengikhlaskan semuanya dan percaya jika Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku kelak.
Kadang cinta tak pernah menyadari kedatangannya, ia akan terasa ketika perpisahan tiba.

Tak mudah ketika hati telah tersentuh oleh cinta. Namun tanpa bisa dipungkiri suatu saat kita akan lari daripadanya, entah dalam ketakutan, atau mencoba sembunyi setelah kehilangan. Jika kau tak akan pernah kembali padaku dalam hidup ini, pasti cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang. Tuhan telah menjamin itu.

Nusantara, 31 Juli 2018
Kolaborasi Cermin Paradigma Imaji II
Tema: Gerhana Bulan
Kelompok I
Yang mengerjakan:
Alifian Nurush Sholahuddin
Dini Kamila Haq
Riyana Andan Dewi
Fajariah Syahfitri
Lanatul Husnia
Evi Fauziah Fazeh
Devi Samaro Sella
Indah Dwi Lestari
Fatihatul Jannah

Yang tidak mengerjakan:
1. Hamba Allah

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".