“Maaf, Di, aku sebenarnya masih terjebak masa lalu, aku gak bisa nerima kamu,”

“Baiklah, aku tidak bisa memaksamu.” tubuhku melemas.

Sebuah penolakan halus, tapi begitu dalam menusuk hati. Itu yang kurasakan saat mendengar ucapan Julia. Aku mencoba menyatakan perasaan yang selama ini kupendam di hari kelulusan SMA. Sayangnya, aku hanya menjadi seorang pecundang.

Setelah kelulusan, aku bekerja sebagai seorang wartawan. Mengisi waktu sebelum kuliah, dan juga, mencari tambah-tambah uang untuk kuliah.

Di sela-sela pekerjaan, aku sering mengunjungi sekolah. Selalu banyak hal yang membahagiakan di sekolah, terutama di ekskulku. Banyak sekali sanjungan.

“Selamat ya, Kak Andi,” kata salah seorang adik kelas.

“Alhamdulillah,” aku mengelus dada dan tersenyum.

“Kak, gimana sih caranya kakak bisa lulus SNMPTN di UNPAD?” tanya salah seorang adik kelas.

“Tidak harus ribet. Jadilah diri kalian, dan kembangkan bakat kalian. Tekuni, jangan sampai loyo,”

Melihat antusiasme adik kelas, begitu memacuku untuk bisa sukses di usia muda.

Hari kuliah sudah tiba. Aku berangkat ke Bandung diantar oleh kakakku. Semangat menggebu dalam dadaku. Aku harus bisa sukses. Batinku.

Sampai di kampus, tiba-tiba aku teringat Julia. Dia juga kan masuk universitas ini, bahkan jurusannya sama denganku. Fikirku.

“Ini uang buat tiga bulan ke depan, gunakan dengan baik,” kakaku memberi sebuah amplop besar.

“Iya, kak.” aku mencium tangan kakak, mamah, dan kakak-kakakku yang lain.

“Hati-hati. Jangan loyo,” mamah mengacungkan jari telunjuknya. Sebuah isyarat larangan.

OSPEK sudah dilewati, tapi aku belum juga bertemu dengan Julia. Apa dia tidak jadi kuliah di sini? Fikirku.

Di kelas, aku sibuk mengedit naskah novel yang ingin aku ajukan kepada penerbit. Sebuah novel cinta yang mengisahkan perjuanganku menunggu Julia.

Tiba-tiba masuk seorang gadis. Ya, itu Julia. Gadis cantik dengan pipi sedikit tembem namun tetap terlihat lucu dan cantik. Kulitnya putih. Matanya selalu bersinar dengan kaca mata minus yang ia kenakan.

Ia duduk di bangku sebelah kananku. Tak lama, dosen pun datang. Aku beranjak dari duduk pindah ke bangku paling belakang.

“Itu kamu mau ke mana?” dosen itu menunjuk ke arahku.

“Mau pindah bangku pak,”

“Kembali ke tempat semula, di mana tanggung jawabmu?”

“Hah?” aku mengernyitkan dahi.

“Tanggung jawabmu di mana? Kamu meninggalkan pacarmu sendirian, kembali ke tempat semula,”

Aku menatap Julia yang tampak tidak nyaman. “Kami tidak pacaran, pak,”

“Kembali ke tempat semula.”

Aku menuruti perkataan dosen itu. Aku duduk di tempat semula, di sebelah Julia.

Pembelajaraan hari ini hanya perkenalan biasa. Nama, hobi, cita-cita dan hal yang lainnya. Ternyata nama dosen tersebut adalah Pak Dirman.

Selesai pembelajaran, jam istirahat tiba. Aku masih memperhatikan raut wajah Julia yang tidak begitu menyenangkan.

“Maaf ya,”

“Buat apa?” Julia menaikan alisnya.

“Perkataan Pak Dirman,”

“Kenapa kamu yang harus minta maaf?”

“Karena Pak Dirman tidak meminta maaf padamu.”

Jawabanku membuat keheningan sejenak di antara kami.

Julia kembali memfokuskan dirinya pada buku yang ia baca.

Aku menghela nafas. Kemudian bangkit dari duduk.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke perpus,”

Julia menatapku, aku pun ikut menatapnya.

“Ikut,” pintanya.

“Oke, ayo.”

Di perpustakaan, aku mencari sebuah buku mengenai ilmu presenter. Cita-cita Julia kan ingin menjadi presenter. Fikirku. Setelah menemukan buku yang kucari, aku membawanya ke tempat duduk kami.

“Ini, buku ini coock buat kamu,” aku menyodorkan buku bersampul biru itu.

“Makasih.”

Aku kembali mencari buku. Aku membawa buku mengenai ilmu jurnalistik.

“Dari dulu kamu gak berubah ya,” Julia membuka pembicaraan.

“Ya?”

“Kamu tidak berubah walau rasa sakit melandamu,”

“Julia, apa yang kamu maksud?”

“Hari kelulusan itu…,”

“Oh. Kamu tahu, luka itu harus ada dalam kehidupan. Tanpa luka, kita tidak akan tahu betapa berharganya kebahagiaan,”

Julia tersenyum.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Kami menjalani masa kuliah seperti seorang sahabat pada umumnya.

Sampai pada hari novel yang aku ajukan diterima oleh salah satu penerbit ternama dari Jakarta. Aku tidak bisa menahan haru bahagia saat menerima telepon dari penerbit tersebut.

“Novel anda sangat luar biasa, nanti kami akan mengerimi anda e-mail, untuk ketentuan lebih lanjut.”

Begitulah kalimat pamungkas dari pihak penerbit padaku. Julia, ternyata perjuanganku punya cerita unik. Batinku.

“Novel kamu booming banget sekampus,”

“Hehe. Kamu udah baca?”

“Belum. Hehe,” Julia tertawa.

Aku mengambil novelku di tas.

“Ini, buat kamu. Gratis,” aku menyodorkan novel bersampul putih itu.

“Serius?!” matanya berbinar.

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Wah. Makasih.” Julia tersenyum.

Aku membalas senyumannya.

Beberapa hari kemudian. Aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri dengan menulis. Tapi itu tidak menghalangiku untuk menjadi seorang Jurnalis.

Suatu sore. Julia mengajakku ke alun-alun.

“Tumben, kamu ngajak aku main,”

“Aku cuma butuh angin segar aja,”

“Berarti aku menjadi kipas buat kamu ya,”

“Apaan sih?” kami tertawa.

“Aku sudah baca novelmu. Sampai tamat,”

Suasana menjadi hening tiba-tiba.

“Cerita yang kamu buat itu adalah kisahmu dalam memendam perasaan padaku, kan?” sambungnya.

Aku memalingkan wajah dan menatap langit sore.

“Tokoh utama perempuan dalam novel itu aku, kan?” Julia makin menggebu.

“Sudah semakin sore, ayo kita pulang,” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Jawab pertanyaan aku,”

“Iya,”

Kami saling menatap sejenak.

“Itu semua kisahku dalam menyimpan luka dan rasa,”

Aku membalikkan badan. Memunggungi Julia.

“Kita bersahabat dari SMA. Dan kamu menghancurkannya dengan cara mengungkapkan perasaanmu di hari kelulusan. Kini, kita bersahabat lagi. Kemudian kamu mengabadikan kisahmu. Mau sampai kapan kamu seperti ini?”

“Sampai aku bisa menjadi dia,”

“Dia siapa?”

“Dia yang bisa membuatmu seperti ini. Terjebak dalam masa lalu. Membuatmu jatuh begitu dalam,”

“Aku sudah bilang, ada hal lain yang bisa membuatku nyaman bersamamu,”

“Kau bilang dia paket komplit bagimu. Aku hanya paket hemat, sebagai pendengar dan pemberi nasihat. Aku tahu aku tidak bisa,”

“Aku ingin terus bersamamu,”

Jantungku seakan berhenti mendengar jawaban Julia.

“Aku ingin kamu menjadi pendampingku,” sambungnya.

Tak terasa, air mata jatuh dari bola mataku. Berselancar di pipi, membasuh semua radikal bebas dalam hati.

Aku berbalik. Julia sudah menangis tersedu-sedu.

Aku mendekatinya. Mengusap air matanya dengan tangan kananku.

“Aku tidak suka melihatmu menangis,”

“Maafkan aku,” tangisnya semakin deras.

“Aku tidak akan pernah menjadi dia,”

Julia menghentikan tangisnya.

“Karena dia sudah menyakitimu. Aku tidak mau menjadi orang yang menyakitimu.” aku tersenyum.

Julia membalas senyumanku.

“Ayo pulang, sudah sore. Atau mau shalat magrib di sini?”

“Shalat di sini aja dulu,”

“Okay. Udah jangan nangis. Kita akan buat cerita baru, novel aku selanjutnya adalah tentang kisah bahagia aku dan kamu.”

Julia tersenyum.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".