Bidadari itu sahabat baiku

Bidadari itu, sahabat baikku !
10 tahun sudah, persahabatanku dengan gadis itu. Gadis yang dulunya tomboy bak lelaki sangar ketika di sekolah menengah pertama (SMP) kini bermetafora menjadi sosok muslimah anggun. Di dekat masjid perumahan kami, sahabatku itu sedang melantunkan tilawah qur’annya dengan balutan gamis biru laut yang lembut, dengan raut muka yang ramah serta suara yang amat merdu. Tampak dia begitu sempurna laksana bidadari surga. Tak lama kemudian, ku tepis rasa ini sadar jika berlanjut persahabat kami akan rusak.
Berkali-kali ku tepis rasa ini. Namun, tak dapat ku menghalangi gejolak hati. Sejak ia merubah penampilannya, aku selalu terkesima melihat keanggunannya. Cantik! Itu dia bidadariku, sahabat baikku. Angin laut membelai hijab dan ujung gamis yang ia gunakan. Aku ingin sekali memilikinya, bukan sekedar sahabat tapi karena cinta. Pernah sekali aku menyatakan perasaanku, apa yang ditanggapinya ? dia bilang aku berhalusinasi.
“ Aku… Aku suka kamu.” Dengan gugup aku menyatakan perasaanku.
“ Ha ha haaa… Coba aku periksa dulu kamu,” dia meletakkan tangan mungil dikeningku “ Panas, kamu butuh paracetamol.”
“ Aku serius! Kapan kamu anggap aku serius? “ bentakku padanya
“ Kamu..? “ Matanya berkaca mendengar bentakanku
“ Aku minta maaf.” Ku pegang tangan mungilnya lalu ditepisnya dan ia berlari
“ Kamu tahu, aku tidak akan menjalin hubungan dengan berpacaran, aku juga tak ingin kehilangan sahabatku karena cinta.”
“ Aku akan memperjuangkan kamu.” Teriakku memecahkan tangisnya
Dia pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung karena ditinggalnya. Dia pergi dengan membawa luka hati yang begitu dalam. Yah, aku salah aku terlalu terburu-buru mengungkapkan perasaan ini. Maafkan aku, sahabatku.
Dilain pihak.
Diatas sejadah aku bersujud. Kutumpahkan keluh kesahku pada Rabbku, sang pemilik cinta paling sempurna. Rasa yang singgah di hatimu bukanlah kesalahan, itu fitrah dari-Nya. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk rasa itu datang dan menahan takdir kedatanganmu pun bukanlah kuasaku. Bahkan sebelum kamu sempat mengutarakannya, rasa ini sudah singgah dalam atma. Sikapmu yang selalu membuatku terpesona, membuat hari-hariku semakin berwarna dan membuat senyumku semakin merekah bak mawar yang bermekaran setiap harinya. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati pada sosok sepertimu. Tapi tidak! Jalan kita belum sempurna. Mungkin kali ini aku harus mengalah untuk melepaskanmu atau membiarkan rasa ini tetap tumbuh dan berkembang? Aku tidak yakin aku akan sanggup, menahan gejolak hati yang semakin memberontak. Hatiku lemah jauh dari-Nya.
Kembali pada pemuda yang patah hatinya.
“ Sepertiga malam, waktu yang tepat untukku mengadu padamu yah Rabb” Ucapku memecahkan keheningan malam.
Ku mulai langkahku untuk mengambil wu’du. Guyuran air wu’du memang sangat menyegarkan sekaligus sangat dingin pada dini hari. Akupun memulai rokaat pertama, menghadap kiblat dengan penuh khusyuk menemui sang Rabb dengan rasa pasrah dan kerendahan hati berharap sang Rabb mengampuni dosa-dosaku saat ini. Selesai salat, ku kembali bertasbih, ditemani tasbih mungil pemberian Zahra bidadari impianku sekaligus sahabatku itu. Untaian butir manik-manik yang mungil bersautan dengan bacaan pujianku.
“ Yah Rabb, Aku sudah berjanji akan memperjuangkannya! Ku ingin dia menjadi sahabatku sekaligus bidadariku di surga nanti.”

Oleh

Komunitas sastra paradigma imaji III

Juara III

Kelompok II

Dalam lomba karya tulis cerita mini.

 

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".