Beberapa waktu ini, hampir serentak setiap kampus mulai kedatangan mahasiswa-mahasiswa baru dan bergantian kampus-kampus tersebut baik negeri maupun swasta mengadakan masa-masa pengenalan untuk para maba tersebut.

munculnya mahasiswa baru ini mulai menyibukan banyak elemen di kampus mulai dari jajaran staff kampus sampai dengan mahasiswa lama, baik mahasiswa yang aktif di organisasi untuk persiapan acara-acara untuk mahasiswa baru maupun mahasiswa-mahasiswa akademis yang sibuk pula memikirkan kelangsungan dunia perkuliahannya.Tidak akan ada habisnya jika membahas tentang seluruh sisi mahasiswa, hanya, ada satu hal yang selalu jadi perbincangan di saat masa orientasi sedari dulu yaitu terbaginya sayap mahasiswa yakni sayap organisatoris dan sayap akademisi.

Dari tahun ke tahun, topik ini selalu menjadi topik hangat pembahasan terutama di kalangan mahasiswa baru. mahasiswa sejatinya dikenal sebagai agent of change, iron stock, sampai dengan social control, lantas bagaimana mahasiswa ini mencapai atau merasa ‘sah’ dengan status-status tersebut. banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa bisa mencapai hal-hal tersebut dengan cara belajar yang rajin, nilai bagus (bahkan mendekati sempurna), kemudian lulus dan menjadi ‘pejuang’ yang sebenarnya. tetapi ada juga yang beranggapan bahwa mahasiswa bisa mencapai status tersebut sejak dini atau sejak di kampus dengan cara berorganisasi.

kemudian banyak muncul pro-kontra dari masing-masing sayap mahasiswa ini bahkan beranggapan bahwa mahasiswa bisa mempunyai dua sayap langsung dengan menjadi akademisi sekaligus organisatoris yang menurut saya pribadi, anggapan tersebut sangat utopis adanya.
Mahasiswa akademisi banyak diidentikan dengan mahasiswa yang tidak pernah absen dan selalu tepat waktu saat kuliah, kegiatannya cenderung monoton seperti kuliah-kantin-perpus-pulang, dan memiliki nilai sempurna dan IP yang bagus. di sisi lain, mahasiswa organisatoris identik sebagai mahasiswa yang lebih rela mengorbankan absen kuliahya demi kegiatan organisasi, cenderung memiliki masa studi yang lama dan tentu IP yang bobrok. stigma itulah yang menjadi jurang pemisah antara akademis dan organisatoris, padahal hal tersebut adalah paradigma lama dan sangat klasik.

Jika melihat paradigma tersebut, sejatinya terlihat bahwa seorang organisatoris sangat dekat dengan hal-hal negatif. mayoritas orang tua menginingkan anaknya di kampus mendapatkan nilai yang bagus, IP yang baik, dan melewati masa studi dengan tepat waktu. orang tua tidak terlalu memperdulikan benefit dari organisasi seperti, seberapa banyak anaknya mendapatkan pengalaman, seberapa banyak anaknya berinteraksi dengan orang baru dan jelas orang tua tidak menginginkan anaknya ikut berkecimpung dalam demo, aksi, dan sebagainya, ciri khas seorang organisatoris. padahal, hal tersebut hanyalah sebuah propaganda orde baru untuk menjauhkan mahasiswa dari penekanan-penekanan terhadap penguasa.
Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil adalah beberapa tokoh muda yang membuktikan bahwa seorang organisatoris tidak selalu bobrok dan organisasi menjadi sangat penting untuk pembekalan yang akan menjadi modal untuk masa depan. terlebih saat ini, organisasi adalah tempat yang sangat tepat untuk menjalankan tridarma perguruan tinggi.

Hal tersebut bukan berarti mutlak menyatakan bahwa organisatoris jauh lebih baik dari akademisi, akademisi tidak kalah hebat dibanding organisatoris. sejatinya, mahasiswa yang bisa benar-benar menjadi seorang yang akademis adalah impian banyak mahasiswa. mahasiswa mana yang tidak memimpikan nilai yang sempurna, IP yang bagus, lulus tepat waktu dan mendapatkan sebuah ‘kehormatan’ akan pencapaian-pencapaian tersebut. akademisi adalah golongan yang banyak dinilai sebagai golongan yang on track karena bisa bertanggung jawab akan sebuah kewajibannya di kampus yakni belajar yang rajin dan lulus tepat waktu.
Tantangan saat ini di dunia kampus jelas sangat berbeda dibanding pada saat paradigma-paradigma klasik tersebut muncul. saat ini mahasiswa dikenakan biaya kuliah yang jauh menanjak dibanding beberapa tahun lalu dan tuntutan masa studi maksimal 7 tahun. mahasiswa dituntut untuk menjadi akademisi sekaligus organisatoris, karena banyaknya organisasi dan semakin kreatifnya kegiatan dari organisasi saat ini akan menjadi sebuah fasilitas nyaman yang bisa dinikmatin seluruh elemen mahasiswa. lantas muncul pertanyaan, apakah bisa menyeimbangkan kuliah dengan organisasi?
Akademis berbicara tentang kewajiban dan tanggungjawab kepada orang yg membiayai kita, organisasi berbicara tentang hal yang tidak dapat ditemui di kelas, contohnya softskill, lalu organisasi juga bisa menjadi sarana untuk mencari ‘modal’ yang banyak untuk terjun di dunia yang sebenarnya nanti. saya sendiri menilai bahwa untuk menyeimbangkan antara dua hal tersebut adalah hal yang utopis. mengapa demikian? contoh paling mudah adalah ketika organisasi sedang dalam kondisi yang urgent serta pada saat yang sama, ada kuliah yang harus diikuti pada saat itu. orang tersebut tidak bisa berbicara keseimbangan pada saat posisi tertekan seperti itu. hal itu adalah contoh sangat mendasar bagaimana organisasi dan akademis mutlak tidak bisa diseimbangkan. itulah yang kemudian menjadi tantangan terbesar mahasiswa untuk tetap menjaga antara organisasi dengan akademis karena selalu ada yang harus dikorbankan antara dua hal tersebut.
Dari dua sayap tersebut, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang tiap individu lah yang bisa menilai apa yang akan menjadi sebuah pilihan. dengan catatan, tidak bisa menyeimbangkan bukan berarti tidak bisa terjun dalam kedua hal tersebut tetapi memang selalu ada yang harus dipilih dari dua hal tersebut. yang terpenting adalah individu masing-masing paham dimana tempat yang tepat untuk menempa talentanya.

Dunia perkuliahan selalu dinamis. keadaan selalu berubah dan harus selalu ada inovasi dari masing-masing individu untuk bisa menjawab manakah yang terbaik untuk dipilih. organisatoris dan akademis dulu jelas beda dengan organisatoris dan akademis pada saat ini, paradigma yang tertanam tentang organisatoris yang kuliahnya berantakan dan akademis yang selalu kutu buku pun tidak akan bisa selalu dijadikan patokan untuk menilai mana yang lebih baik antara keduanya.
Memilih Menjadi aktivis (Organisatoris) kampus atau Akademisi adalah pilihan yang tak sulit,. jika keduanya bisa jalan beriringan kenapa tidak ?,. Menjadi Mahasiswa dengan tambahan mahasiswa Aktivis adalah gelar spesial yang tak semua mahasiswa bisa mendapatinya.

Loading...
Disclaimer
Artikel "tulisan" yang terdapat di situs web ini "ayonulis.net" ditulis oleh pengguna. pengguna / penulis yang bertanggung jawab "isi tulisan". Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab atas hal yang dapat ditimbulkan dari artikel di situs web ini "ayonulis.net, namun setiap orang dapat mengirim surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola. Pengelola situs web berhak memuat artikel hingga penonaktifan akun penulis jika tersedia konten yang dipertanyakan di web ini "ayonulis.net".
Hosting Unlimited Indonesia

1 KOMENTAR

Silakan berikan komentar kamu mengenai Artikel ini. "berkomentarlah dengan bijak".